Gudang Hikmah Ku

Setetes Hikmah yang Ku Peroleh dari ALLAH Sang Pemilik Ilmu

PENETAPAN VISKOSITAS RELATIF LARUTAN GARAM 75%, 50%, DAN 25% TERHADAP AIR

Ditulis oleh harieshandoyo di/pada Februari 19, 2009

Tulisan ini merupakan laporan praktikum fisika terapan dengan judul praktikum viskositas, maksudnya biar mempermudah adik kelas di STTN dalam buat laporan n waktunya tidak habis untuk berkutat dengan laporan. Berhubung masih tahun pertama buat laporan praktikum, jadi mohon maaf kalau masih banyak kesalahan dan kekurangan.  laporan ditampilkan dalam bentuk PDF karena kalau dalam bentuk Word rumusnya ngga mau keluar. silahkan klik aja disini laporan praktikum fisika terapan : viskositas

Ditulis dalam laporan Praktikum | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Unta yang Malang

Ditulis oleh harieshandoyo di/pada Januari 30, 2008

Unta yang Malang

river-of-life.jpg

wild life 

Ada sebuah hutan yang sering dilalui oleh manusia. Di sana, hiduplah seekor Singa yang merupakan sang penguasa hutan, dan ia memiliki tiga teman setia yaitu; Srigala, Burung Gagak, dan Anjing Hutan. Suatu hari, hutan itu dilalui oleh serombongan kafilah yang membawa seekor Unta yang secara tiba-tiba tidak mau meneruskan kembali perjalanan. Untungnya pimpinan kafilah itu orang yang baik karena ia membiarkan Unta tersebut dalam keadaan hidup dan tidak membunuhnya.

 

Di hutan tersebut Unta yang ditinggalkan kafilah tersebut bertemu dengan Singa, sang penguasa hutan. Kala itu, sang Singa bertanya kepadanya:”Dari mana kamu berasal?”

 

“Aku berasal dari negeri yang jauh,”kata si Unta.

 

“Ada keperluan apa anda tetap tinggal di hutan ini dan tidak melanjutkan perjalanan bersama rombongan anda?” Tanya si Singa.

 

“Aku tidak ada perlu apa-apa, aku hanya ingin tinggal di hutan ini dan aku pasrahkan hidupku pada anda sebagai penguasa hutan ini” jawab si Unta.

 

“Kalau begitu, tinggallah bersama kami di bumi yang luas serta subur ini sesuka hatimu, kami menerimamu dengan tangan terbuka.” Kata si Singa.

 

Kemudian mereka pun hidup saling bahu-membahu satu sama lain dan kehidupan mereka penuh dengan kedamaian dan ketentraman. Kehidupan nyaman itu terus berlanjut hingga suatu hari, kala si Singa bertemu dengan gajah besar. Akhirnya terjadilah pertempuran antara Singa dan gajah, namun meski si Singa akhirnya bisa menyelamatkan diri, tetapi tubuhnya terluka parah dan terus mengalirkan darah segar karena dibanting dan diinjak oleh sang gajah. ketika sudah sampai di tempat kediamannya, Singa mendapati tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan lagi dan ia merasa dirinya kini sudah tidak dapat lagi berburu binatang.

 

Derita itu ternyata juga sangat berdampak pada Srigala, Burung Gagak, dan Anjing Hutan. Sebab dengan lumpuhnya si Singa, mereka tidak mendapatkan makanan. Karena selama ini si Singalah yang telah berburu dan memberi makan kepada mereka. Sekarang mereka semua sedang tertimpa kelaparan dan kondisi mereka sangat memprihatinkan.”

 

Dalam kondisi duka seperti itu, sang Singa berkata kepada mereka: “berusahalah kalian untuk mencari makanan untuk diri kalian!”

 

Mereka berkata: “kami tidak pernah memperdulikan nasib kami, pikiran dan hati kami semata-mata terfokus pada nasib yang menimpa diri anda, duhai paduka Raja. Mudah-mudahan kami bisa menemukan rezeki untuk menyembuhkan dan memberi makan anda.”

 

“Aku tidak pernah ragu akan loyalitas kalian, namun dalam keadaan seperti ini, sebaiknya kalian berhenti merenungi nasib dan pergilah mencari buruan. Semoga kalian bisa mendapatkan hewan buruan untuk makan kita bersama.”

 

Kemudian Srigala, Burung Gagak, dan Anjing Hutan pergi meninggalkan si Singa. Di tengah perjalanan, mereka bermusyawarah guna mencari solusi agar keluar dari derita yang mengungkung mereka. Tiba-tiba salah satu dari mereka berkata:”kenapa kita tidak menghabisi si Unta saja, ia yang jelas ada didepan mata kita? Bukankah keberadaannya tidak membawa untung bagi kita? Daripada susah payah mencari hewan buruan, lebih baik Unta tersebut saja yang kita bunuh untuk dijadikan santapan Raja dan kita”

 

“Aku sangat setuju dengan usulan ini, tapi sepertinya akan susah bagi kita untuk mengutarakannya pada sang Raja, sebab selama ini ia lah yang bertanggung jawahb dan menjadi pelindung Unta tersebut” jawab si Anjing Hutan.

 

“Masalah menyampaikan ini kepada Raja biar aku yang urus, aku yakin bisa meyakinkannya.” Kata si Burung Gagak.

 

Kemudian mereka bertiga kembali menemui sang Raja. Ketika melihat kedatangan mereka, sang Raja bertanya: “Mengapa kalian ke sini lagi? Apa kalian sudah membawa hewan buruan.”

 

“Hanya orang-orang yang bisa mengoptimalkan kecerdasan akal dan giat bekerja yang akan memperoleh hasil buruan. Sedangkan kami wahai paduka Raja, belum berusaha dan tidak mampu keluar dari rasa kelaparan ini. Meski demikian, kami mempunyai gagasan dan ide yang cerdas untuk keluar dari himpitan kelaparan ini, dan bila paduka Raja berkenan, maka kami akan dengan sigap melaksanakannya.” Kata si Burung Gagak.

 

“Seperti apakah ide yang kalian punya?” Tanya sang Raja.

 

“Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Unta yang berada ditengah-tengah kita adalah hewan pemakan rumput. Dan selama ini kami tidak melihat adanya kontribusi dari dirinya untuk kehidupan kita. Ia sama sekali tidak membawa keuntungan apa pun bagi kita, terlebih paduka Raja. Kami melihat ada dan tidaknya si Unta tidak memiliki pengaruh bagi kita, kenapa tidak kita membunuhnya saja dan dagingnya bisa kita santap sebagai pengobat rasa lapar kita.” Kata si Burung Gagak.

 

Mendengar paparan tersebut, sang Raja sangat murka dan berkata: “aku melihat pendapatmu sangat kurang ajar. Betapa bodohnya dirimu wahai Gagak, yang begitu berani dan lancang melontarkan pendapat yang sama sekali tidak menaruh kasih sayang terhadap sesame, terlebih setia kawan. Sejujurnya kukatakan bahwa pendapatmu itu sangat melukai hatiku dan menjerumuskan hatiku. Tidakkah engkau tahu wahai Gagak, selama ini keselamatan dan kehidupan Unta itu sepenuhnya berada di dalam tanggung jawabku. Tidakkah kamu tahu wahai Gagak, sesungguhnya tidak ada pemberian yang lebih agung pahalanya daripada memberi rasa aman kepada mereka yang didera ketakutan dan membiarkan darah mengalir tanpa dosa. Aku telah menjamin keselamatan dan keamanannya, dan aku tidak akan sekali-kali akan menghianatinya dan menelan ludahku sendiri.”

 

Sang Gagak pun lalu berkata: “hamba tidak mengerti dengan maksud paduka Raja. Sebab yang hamba tahu, dalam himpitan hidup yang sulit, tidak jarang ada orang yang rela berkorban demi keluarganya, ada keluarga yang rela berkorban bagi masyarakatnya, dan sering pula kita mendengar ada penduduk negeri yang rela berkorban demi sang Raja. Kini paduka Raja berada dalam kesulitan hidup, maka hamba mengutarakan pendapat ini guna mengorbankan salah satu penduduk demi paduka Raja, hamba yakin, dengan mengorbankan dirinya tidak akan merugikan masyarakat dan paduka Raja. Sebab dalam hemat hamba, dengan mengorbankan Unta tidak ada yang harus dibayar dari pengorbanan ini, utamanya bagi baginda dan anak negeri ini. Kalau saja paduka Raja mempercayakan tugas ini kepada kami, sungguh kami telah siap dengan strategi kami untuk membuat si Unta dengan suka rela mengorbankan dirinya untukmu sang Raja. Sehingga anda bisa segera pulih dan kita segera keluar dari masalah kelaparan ini.”

 

Mendengar paparan si Gagak, sang Raja terdiam dan merenungkan gagasannya yang cerdik. Ketika melihat sang Raja tertarik dengan gagasannya si Burung Gagak pamit mendatangi kawan-kawannya, dan berkata: “aku telah membincangkan masalah Unta kepada sang Raja dan kulihat ia tertarik dengan gagasan kita, sebaiknya kita segera bergegas mengajak si Unta untuk menemui sang Raja. Kita harus pandai-pandai bersandiwara di hadapan sang Raja untuk menawarkan diri dan bersedia berkorban menjadi santapannya. Lalu yang lain menolak dengan sekaligus menawarkan diri dengan tawaran yang serupa dan jika tiba giliran si Unta menawarkan diri degan tawaran yang serupa untuk bersedia menjadi santapan sang Raja, maka kita harus sepakat menyetujuinya. Dengan begitu, kita semua akan selamat dan bisa membunuhnya dengan cara yang legal dan cerdas. Aku yakin sang Raja akan legawa dengan cara seperti ini.”

 

Ketika mereka telah bersepakat, mereka segera pergi menghadap sang Raja dengan mengajak si Unta. Di hadapan sang Raja dan disaksikan yang lainnya, si Burung Gagak berkata:”Wahai tuanku Raja, demi memulihkan kesehatan paduka, kami bersedia berkorban apa saja, bahkan nyawa sekalipun. Kami berkewajiban berkorban demi paduka Raja, meskipun harus kami bayar dengan kematian kami. Jika paduka sampai hancur dan binasa, maka kami semua lebih baik memilih mati bersama baginda. Sebab tanpa paduka Raja, berarti tidak ada kebaikan dalam hidup ini. Dengan disaksikan kawan-kawan semua,demi memulihkan kesehatan paduka Raja, hamba merelakan diri sebagai santapan paduka Raja.” Kata si Gagak.

 

Mendengar perkataan si Gagak, si Anjing Hutan segera berpura-pura menyanggah tawarannya seraya berkata: “kami rasa tidak ada untungnya bagi paduka Raja untuk memakan dirimu, sebab badanmu terlalu kecil, dan apalah yang bisa dimakan dari dirimu, kawan. Jika paduka Raja berkenan silahkan makan hamba saja, badanku lebih besar daripada si Burung Gagak. Hamba rela berkorban jiwa dan raga demi paduka Raja”

 

Namun tiba-tiba Burung Gagak dan Srigala berkata:”kau memang lebih gemuk, tapi kami yakin paduka Raja tidak akan merasa kenyang memakanmu.”

 

Srigala pun lalu berkata: “tubuhku lebih besar dari mereka berdua, makan saja diriku, aku rela berkorban demi memulihkan kesehatanmu wahai paduka Raja”

 

Mendengar tawaran Srigala, Anjing Hutan dan Burung Gagak pun mencegah seraya berkata: “tidakkah kamu tahu, para tabib pernah berkata, ‘barangsiapa hendak membunuh dirinya sendiri, hendaknya ia memakan daging Srigala terlebih dahulu.’ Kami tahu jiwa pengorbananmu, tapi kau malah bisa mencelakai sang Raja nantinya.”

 

Melihat perdebatan yang terjadi pada ketiga sababat karib tersebut guna mengorbankan dirinya di hadapan sang Raja, maka si Unta pun termakan sandiwara mereka dan tergerak menunjukkan loyalitasnya kepada sang Raja. Maka ia pun menawarkan diri sebagai santapan sang Raja dengan prediksi bahwa teman-temannya juga akan menolak menjadikan dirinya sebagai santapan sang Raja. Akhirnya ia pun berkata: “wahai paduka Raja, seperti yang baginda lihat, badanku sangatlah gemuk dan dalam tubuhku terdapat daging-daging yang segar dan sangat lezat untuk disantap. Dibandingkan dengan kawan-kawan yang lain, rasa daging hamba tentu akan lebih lezat, karena hamba merupakan hewan pemakan tumbuhan. Hamba rela menjadi santapan baginda Raja demi memulihkan kekuatan paduka Raja, selain masih banyak sisa daging hamba yang bisa dimanfaatkan hewan-hewan lain. Kukatakan dengan penuh kejujuran dan ketulusan bahwa aku bersedia berkorban demi sang Raja.” Berlawanan dengan yang diharapkan oleh si Unta, ternyata Anjing Hutan, Burung Gagak, dan Srigala malah membenarkan dan menyetujui usulannya. Kemudian dengan sigap mereka menerkam dan menghabisi si Unta hingga tewas. [Ibn Al Muqaffa]

 

Ditulis dalam cerita hikmah | Bertanda: , , , , | 2 Komentar »