Burung Baik yang Malang
Syahdan, ada suatu komunitas kera yang tinggal di hutan yang berada di puncak gunung. Pada suatu malam, datang badai gunung dengan hembusan angin yang sangat kencang dan sangat dingin. Dalam kedinginan yang mencekam di tengah gelapnya malam, kera-kera itu hendak mencari api untuk menghangatkan diri mereka. Setelah mengelilingi semua pojok gunung, mereka tetap tidak mendapatkan api. tiba-tiba mereka melihat burung kenari yang terbang di angkasa seakan-akan menjelma bak bara api. Melihat itu, kera-kera mengira kalau burung kenari itu adalah api dan tanpa berfikir panjang mereka mengumpulkan kayu bakar untuk membuat perapian agar bisa menghangatkan diri dari gempuran cuaca dingin yang rasanya hingga membuat tulang mereka membeku. Sementara itu didekat komunitas kera, tinggallah seekor burung yang sangat terheran-heran melihat kelakuan para kera yang menganggap burung kenari sebagai pijaran api.
Si burung mencoba mengingatkan kera-kera itu serasa berkata: ”Wahai komunitas kera, mengapa kalian menyusahkan diri, yang kalian lihat bukanlah api, itu adalah burung kenari.” Namun para kera tetap tidak bergeming mendengar nasehat sang burung. Akhirnya, si burung mencoba mendekati mereka dan berusaha meyakinkan bahwa apa yang mereka anggap api tidak lain adalah burung kenari dan bukan api.
Kala itu, ada salah satu hewan yang merupakan anggota komunitas hutan itu juga berusaha mengingatkan sang burung agar tidak terlalu bersikeras meluruskan sesuatu yang memang tidak bisa diluruskan. Hewan itu berkata:”tidakkah kamu ingat, wahai burung. Sebongkah batu cadas yang keras tidak akan bisa dibelah dengan pisau setajam apapun. Dan sebuah anak panah pun tidak akan melesat jauh kalau tidak ada yang memasangkannya pada busurnya. Oleh karena itu janganlah kau paksakan dirimu untuk bersusah payah mengingatkan mereka, jangan paksakan dirimu memberikan nasehat kepada orang yang tidak bisa menerima nasehat, karena hal itu hanya akan menghambur-hamburkan tenaga dan waktumu saja.”
Hewan itu bermaksud mengingatkan kepada sang burung bahwa usahanya meluruskan keyakinan para kera yang menganggap burung kenari adalah api adalah pekerjaan yang sia-sia pula. Sebab para kera itu sudah sampai puncak keyakinannya, dan untuk merubah keyakinan mereka adalah hal yang mendekati mustahil.
Namun meski sudah dinasehati, sang burung tetap saja berusaha memahamkan komunitas kera bahwa apa yang mereka sangka sebagai api tiada lain merupakan burung kenari. Dan ketika sang burung makin dekat ke arah komunitas kera, tiba-tiba mereka segera menghabisinya karena dianggap mengganggu mereka dan terlalu bermulut besar. Usaha dan niat baik sang burung yang hendak menasehati dan memberi saran kepada kera-kera itu kini malah berbalas dengan kematian dirinya. [Ibn Al Muqaffa]