Gudang Hikmah Ku

Setetes Hikmah yang Ku Peroleh dari ALLAH Sang Pemilik Ilmu

Arsip untuk Januari 28th, 2008

Burung Baik yang Malang

Ditulis oleh harieshandoyo di/pada Januari 28, 2008

Burung Baik yang Malang 

Syahdan, ada suatu komunitas kera yang tinggal di hutan yang berada di puncak gunung. Pada suatu malam, datang badai gunung dengan hembusan angin yang sangat kencang dan sangat dingin. Dalam kedinginan yang mencekam di tengah gelapnya malam, kera-kera itu hendak mencari api untuk menghangatkan diri mereka. Setelah mengelilingi semua pojok gunung, mereka tetap tidak mendapatkan api. tiba-tiba mereka melihat burung kenari yang terbang di angkasa seakan-akan menjelma bak bara api. Melihat itu, kera-kera mengira kalau burung kenari itu adalah api dan tanpa berfikir panjang mereka mengumpulkan kayu bakar untuk membuat perapian agar bisa menghangatkan diri dari gempuran cuaca dingin yang rasanya hingga membuat tulang mereka membeku. Sementara itu didekat komunitas kera, tinggallah seekor burung yang sangat terheran-heran melihat kelakuan para kera yang menganggap burung kenari sebagai pijaran api.

Si burung mencoba mengingatkan kera-kera itu serasa berkata: ”Wahai komunitas kera, mengapa kalian menyusahkan diri, yang kalian lihat bukanlah api, itu adalah burung kenari.” Namun para kera tetap tidak bergeming mendengar nasehat sang burung. Akhirnya, si burung mencoba mendekati mereka dan berusaha meyakinkan bahwa apa yang mereka anggap api tidak lain adalah burung kenari dan bukan api.

Kala itu, ada salah satu hewan yang merupakan anggota komunitas hutan itu juga berusaha mengingatkan sang burung agar tidak terlalu bersikeras meluruskan sesuatu yang memang tidak bisa diluruskan. Hewan itu berkata:”tidakkah kamu ingat, wahai burung. Sebongkah batu cadas yang keras tidak akan bisa dibelah dengan pisau setajam apapun. Dan sebuah anak panah pun tidak akan melesat jauh kalau tidak ada yang memasangkannya pada busurnya. Oleh karena itu janganlah kau paksakan dirimu untuk bersusah payah mengingatkan mereka, jangan paksakan dirimu memberikan nasehat kepada orang yang tidak bisa menerima nasehat, karena hal itu hanya akan menghambur-hamburkan tenaga dan waktumu saja.”

Hewan itu bermaksud mengingatkan kepada sang burung bahwa usahanya meluruskan keyakinan para kera yang menganggap burung kenari adalah api adalah pekerjaan yang sia-sia pula. Sebab para kera itu sudah sampai puncak keyakinannya, dan untuk merubah keyakinan mereka adalah hal yang mendekati mustahil.

Namun meski sudah dinasehati, sang burung tetap saja berusaha memahamkan komunitas kera bahwa apa yang mereka sangka sebagai api tiada lain merupakan burung kenari. Dan ketika sang burung makin dekat ke arah komunitas kera, tiba-tiba mereka segera menghabisinya karena dianggap mengganggu mereka dan terlalu bermulut besar. Usaha dan niat baik sang burung yang hendak menasehati dan memberi saran kepada kera-kera itu kini malah berbalas dengan kematian dirinya. [Ibn Al Muqaffa] 

Ditulis dalam cerita hikmah | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Ahli Ibadah dan Tupai

Ditulis oleh harieshandoyo di/pada Januari 28, 2008

  Ahli Ibadah dan Tupai

Ada seorang ahli ibadah yang tinggal di negeri sebrang yang memiliki seorang istri yang cantik rupawan. Meski telah membina rumah tangga bertahun tahun, ia belumlah dikaruniai seorang anak. Setelah melewati penantian panjang dan hampir membuatnya putus asa akhirnya sang istri pun mengandung. Dengan penuh kebahagiaan, sang istri lantas memberitahu kabar gembira tersebut kepada sang suami yang disambut dengan puja dan puji syukur kepada Allah SWT atas kehamilan istri tercintanya yang selalu dimohonkan agar dikaruniai seorang anak.

Usai memanjatkan syukur, si suami berkata kepada istrinya: “Wahai istriku, kita berdua patut bersyukur dan berbahagia atas kehamilanmu ini. Aku berharap anak kita yang kelak akan lahir adalah laki-laki. Ia akan menjadi permata hati kita dan kelak bila dewasa akan banyak membantu serta memberi pertolongan kepada kita. Aku akan memanggil penyair terbaik yang ada di negeri ini untuk meminta nasehat tentang nama yang paling baik bagi lelaki yang kelak akan kita berikan kepada anak kita”

Mendengar hal itu si istri berkata: “Mengapa engkau berfikir sejauh itu wahai suamiku? Lagi pula kenapa engkau berkata tentang sesuatu yang belum kita ketahui dan bukankah ini hal yang belum terjadi? Laki-laki atau perempuan sebaiknya kita tunggu saja, terserah kehendak Allah SWT. Dan jika kamu meluapkan kegembiraannya seperti itu maka kamu akan mengalami nasib seperti seorang penghayal yang tertumpahi madu.”

Mendengar hal itu si suami berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai istriku”

Inilah kisah Seorang Penghayal Yang Tertumpahi Madu

“Aku sengaja mengisahkan hal ini kepada engkau kakanda, agar engkau tidak gegabah mengandai-andaikan sesuatu yang belum terjadi dan supaya kakanda tidak tergesa-gesa membanggakan sesuatu yang belum pantas dibanggakan. Selain itu, ada sebuah kearifan apabila seseorang mampu menahan dirinya untuk tidak menyebut sesuatu yang belum diketahui, terlebih sesuatu yang kebenarannya belum pasti,” kata istrinya menambahkan.

Sang istri akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki yang memiliki wajah sangat tampan. Kebahagiaan sang suami sangat luar biasa, hingga pada suatu hari ketika istrinya hendak mandi, wanita itu berkata kepada suaminya:”Tungguilah putra kita barang sebentar saja, aku hendak ke kamar mandi sebentar dan akan segera kembali.” Kemudian si istri pergi untuk mandi, sedangkan si suami menunggui putra kesayangannya dengan ditemani oleh seekor tupai.

Tidak lama saat menunggu sang bayi, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk oleh seorang tamu yang mengaku sebagai utusan raja yang datang atas perintah raja dan mengatakan kalau raja memanggilnya untuk suatu urusan. Demi mematuhi panggilan sang raja, si suami akhirnya pergi dan meninggalkan bayinya sendirian yang sedang dalam keadaan tertidur lelap tanpa sempat memberitahu kepada istrinya yang sedang mandi. Bayi ini kini hanya bertemankan seekor tupai yang semenjak kecil dipelihara oleh sang ahli ibadah, dan ia adalah teman bermainnya si kecil. Tiba-tiba dari celah tembok rumah muncullah seekor ular derik yang hendak menggigit si bayi. Melihat adanya bahaya, si tupai dengan sigap menerkamnya dan terjadilah pergumulan yang seru antara si tupai dengan ular derik hingga akhirnya si tupai berhasil mencakar dan merobek badan ular tersebut dengan cakar dan taringnya hingga ular itu tewas berlumuran darah.

Beberapa saat kemudian, si pegiat ibadah pulang ke rumah dan merasa sangat terkejut ketika hendak membuka pintu melihat si tupai menerobos dari balik pintu denga mulut dan badan yang berlumuran darah. Dalam otaknya, timbul pikiran negatif dan tanpa berfikir jernih dan melihat fakta, ia langsung menyangka kalau si tupai telah mencelakai putranya. Tanpa berfikir panjang, si ahli ibadah langsung mengayunkan tongkatnya kearah si tupai. Si tupai yang tidak mengira akan di serang oleh tuannya tidak bisa mengelak dan terkena pukulan dengan telak hingga terlempar jauh dan langsung membuatnya tewas tak lama kemudian. Setelah itu si ahli ibadah langsung masuk ke kamar anaknya untuk memeriksa keadaannya. Setelah masuk ke dalam rumah, ia mendapati putranya sehat walafiat dan mendapati adanya seekor ular derik yang telah tewas tercabik-cabik berlumuran darah tidak jauh dari tempat tidur putranya.

Melihat keadaan itu, si ahli ibadah baru menyadari kalau ia telah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, ia bersalah karena telah membunuh tupai yang ternyata telah berjasa karena menyelamatkan nyawa putra kesayangannya dari serangan ular derik. Kemudian dengan berteriak keras ia berkata:”Andai saja aku tidak dikaruniai seorang anak, mungkin aku tidak akan melakukan kekejian dan penghianatan seperti ini, wahai Allah Yang Maha Pengampun, ampuni hambamu ini yang telah berbuat zalim terhadap mahlukmu Yaa Allah!”

Mendengar teriakan itu, sang istri datang dan ia merasa sangat heran melihat keadaan suaminya dan segera bertanya:”Ada apa denganmu wahai suamiku?”

Si suami lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Ia bercerita tentang kebaikan budi si tupai yang telah menyelamatkan nyawa putranya dari kematian dan juga kebusukan laku dirinya yang telah membalas kebaikan si tupai dengan kematian. Usai mendegar cerita suaminya, sang istri berkata:”Ini adalah buah dari ketergesa-gesaan dan sikap gegabah.” Ini adalah sebuah tamsil, barangsiapa yang tidak berhati-hati dalam melakukan suatu perbuatan, maka ia akan terperosok dalam kecerobohan dan ketergesa-gesaan. Tergesa-gesa dan ceroboh merupakan bagian dari sifat setan dan kelak hanya akan membuahkan penyesalan.” [Ibn Al Muqaffa]

Ditulis dalam cerita hikmah | Bertanda: , , | Leave a Comment »