Gudang Hikmah Ku

Setetes Hikmah yang Ku Peroleh dari ALLAH Sang Pemilik Ilmu

Keledai yang tak Punya Hati dan Telinga

Ditulis oleh harieshandoyo di/pada Januari 29, 2008

Keledai yang tak Punya Hati dan Telinga

Dikisahkan ada seekor Harimau di hutan belantara. Harimau tersebut bertetangga dengan seekor Anjing Hutan yang merupakan pemakan makanan terbaik di hutan tersebut. Pada suatu hari, sang Harimau tertimpa penyakit aneh dan kehilangan kekuatannya, sehingga ia tidak bisa berburu mencari mangsa. Melihat itu, sang Anjing Hutan berkata kepada si Harimau: ”Apa yang terjadi pada dirimu, wahai Harimau? Kondisimu sungguh telah berubah sangat drastis.”

“Penyakit aneh yang telah membuatku seperti ini, menurut seorang tabib tidak ada obat yang bisa menyembuhkan sakitku kecuali hati Keledai dan kedua kupingnya.” jawab si Harimau. 

Mendengar jawaban sang Harimau, si Anjing Hutan keheranan dan berkata: ”Bukankah sangat mudah bagimu untuk mendapatkannya, wahai Harimau? Kuharap kamu tidak usah bersedih hati, sebab aku tahu di mana Keledai-Keledai itu biasa berkumpul di hutan ini. Aku akan ke sana dan akan kuajak salah satu di antara mereka ke sini.”   

Usai berkata demikian, si Anjing Hutan pergi ketempat Keledai-Keledai biasa berkumpul dan mendapati seekor Keledai yang sedang murung dan tampak sedih. Anjing Hutan berusaha mendekatinya dan berkata: ”Apa yang terjadi denganmu wahai kawan? Aku tidak pernah melihatmu dalam kondisi sesedih seperti sekarang ini?”

Si Keledai menjawab: ”bagaimana aku tidak sedih, sebab sudah beberapa hari ini kawan-kawanku tidak memberiku makanan.”

“Bagaimana kamu rela dengan kondisimu yang ditelantarkan seperti ini kawan?” tanya si Anjing Hutan.

“Aku tidak punya alasan dan tidak tahu cara kabur serta keluar dari sini kawan, sebab kalaupun aku keluar dari sini dan berlari ke suatu arah tertentu, pasti aku akan berada dalam kondisi bahaya karena adanya ancaman manusia yang hendak memburuku. Mereka pasti akan menjebak dan memakan dagingku.” jawab si Keledai.

“Aku bisa menunjukkan padamu tempat yang aman dari intaian manusia. Sebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk manusia dan tidak akan pernah mereka jamah, sebuah tempat yang sangat bagus pemandangannya dan kamu bisa mendapatkan makanan apa saja yang kamu kehendaki di tempat itu, ” jebak si Anjing Hutan.  

Mendengar rayuan dari si Anjing Hutan, sang Keledai berkata: ”Betapa senang aku mendengarnya. Aku siap ikut denganmu dan mari kita berangkat ke sana!” Si Anjing Hutan dan si Keledai kemudian berangkat menuju ke tempat yang dijanjikan oleh si Anjing Hutan yang tak lain sebenarnya adalah hutan di mana sang Harimau tinggal.

Setiba di tempat sang Harimau, si Anjing Hutan memberi peluang yang lebar kepada Harimau untuk menyerang Keledai, namun karena kondisi fisiknya yang lemah, maka sang Harimau tidak bisa memanfaatkan kesempatan emas tersebut dan sang Keledai pun bisa menyelamatkan diri dari terkamannya. Si Anjing Hutan melihat kenyataan bahwa sang Harimau telah gagal dan menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut, maka ia pun menyindirnya: ”Huh Payah, kamu sekarang benar-benar lemah, wahai kawanku, dengan keadaan seperti ini engkau tidaklah pantas menjadi punggawa hutan ini.” 

Merasa dipermalukan, si Harimau berkata: ”Baiklah, Jika kamu bawa Keledai itu sekali lagi, aku jamin ia tidak akan lepas dari cengkramanku dan tidak akan kembali dari hutan ini dalam keadaan hidup!” 

Mendengar sumpah sang Harimau, maka si Anjing Hutan menemui Keledai untuk yang kedua kalinya. Ketika bertemu, Anjing Hutan langsung berkata: ”Apa yang membuatmu lari, wahai saudaraku? Baiklah sekarang begini saja, kita ketempatku saja, disana aku memiliki banyak kawan dari jenis hewan sebangsamu. Jika kau temui mereka, tentu mereka akan memuliakanmu dan menjamumu dengan sebaik-baiknya. Mari ke tempatku saja, sekarang tidak ada lagi Harimau karena aku telah mengusir Harimau pesakitan itu jauh dari hutan ini. Kini, yang ada di tempatku adalah para karibmu dari komunitas Keledai yang baik-baik.” 

Mendengar perkataan si Anjing Hutan, hati sang Keledai menjadi luluh dan berhasil diperdayai untuk yang kedua kalinya hingga kemudian berangkat bersama si Anjing Hutan. Ketika tiba di rumahnya, dengan cepat si Anjing Hutan menyelinap memberitahu Harimau akan keberadaan si Keledai di rumahnya dan berkata: ”Kamu harus bersiap-siap dan jangan sampai gagal. Tadi kamu telah mengecewakanku, kali ini jangan sampai gagal lagi. Jika kamu sampai gagal, selamanya aku tidak akan mau berteman dengan pecundang sepertimu lagi.” 

Merasa dikompori oleh si Anjing Hutan, si Harimau segera mengumpulkan energi dan tenaganya untuk membuktikan kalau dirinya masih kuat dan layak disebut punggawa hutan. Usai itu, ia segera menghampiri si Keledai. Setelah mengintai cukup lama dan mencari waktu yang tepat, sang Harimau dengan sigap dan tangkas mampu menerkam si Keledai hingga ia bisa dilumpuhkan dan akhirnya tewas di tangan Harimau.

Setelah menewaskan si Keledai, sang Harimau berkata kepada si Anjing Hutan: ”Para tabib menasehatiku agar aku tidak langsung memakan hati dan kedua telinganya, kecuali setelah mandi membersihkan diri. Wahai Anjing Hutan, tolong jaga Keledai ini, hingga aku selesai mandi dan membersihkan diri. Usai itu, barulah aku akan menyantap hati dan telinga Keledai ini serta semua sisanya akan kuberikan semua kepadamu.” 

Ketika si Harimau mandi dan membersihkan diri, maka si Anjing Hutan dengan cekatan mendekati Keledai dan dengan lahap memakan hati dan kedua telinganya. Sementara itu, setelah si Harimau kembali setelah membersihkan diri, ia mendapati bahwa hati dan telinga Keledai sudah tiada dan dengan penuh perasaan dongkol berkata kepada Anjing Hutan: ”Lho, mana hati dan kedua telinga Keledai ini, wahai Anjing Hutan?” 

Mendengar pertanyaan itu si Anjing Hutan pun menjawab: ”Apakah kamu tidak tahu wahai Harimau, jika memang Keledai ini punya hati, yang dengannya mampu berfikir dan kedua telinga, yang dengannya ia akan mampu mendengar, tentu ia tidak akan kembali kepadamu dan akan bisa menyelamatkan diri dari kehancuran yang menimpanya. Justru karena tidak memiliki hati dan telingalah maka ia tidak bisa menyelamatkan diri dari terkamanmu.” 

Si harimau pun tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa diam terkesima mendengar perkataan si Anjing Hutan dan bermaksud untuk mencari Keledai lainnya dengan usahanya sendiri tanpa mengandalkan bantuan dari si Anjing Hutan yang licik itu. [Ibn Al Muqaffa] 

Satu Tanggapan ke “Keledai yang tak Punya Hati dan Telinga”

  1. Ms. kunti berkata

    tuh keledai imut banget ya……………….
    nemu keledai di mana tuh……
    bisa seimut itu……….
    setau aq keledai kan amit…..

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>