Gudang Hikmah Ku

Setetes Hikmah yang Ku Peroleh dari ALLAH Sang Pemilik Ilmu

Kera dan Kura-kura

Ditulis oleh harieshandoyo di/pada Januari 29, 2008

Kera dan Kura-kura 

Dahulu, ada seekor Kera cerdik yang merupakan Maharaja Kera. Setelah beranak pinak dan berusia lanjut, ia pun lengser dari singasananya karena dikudeta oleh Kera-Kera muda. Akhirnya, ia dengan terpaksa harus keluar dari hutan dan melarikan diri hingga kemudian terdampar di tepi pantai. Ketika mendapati banyak pohon tin, si Kera segera memanjat dan menjadikan pohon itu sebagai rumahnya yang baru. Suatu hari, ketika ia sedang asyik memakan buah tin, tiba-tiba buah itu terlepas dari genggamannya dan terjatuh ke air yang membuat air bergemericik dan menimbulkan riak. Melihat kejadian yang menurutnya unik itu, kini setiap usai makan buah tin, si Kera melempar kulitnya ke dalam air agar bisa melihat dan mendengar gemericik air yang terus diulanginya berkali-kali.

Setiap kali ia menjatuhkan buah tin ke dalam air, buah itu selalu diburu oleh seekor Kura-kura yang lalu memakannya.  Kejadian itu terjadi berulang-ulang dan si Kura-kura berprasangka bahwa hal itu sengaja dilakukan oleh si Kera untuk dirinya, hingga pada suatu hari ada keinginan dari si Kura-kura untuk menjadikan si Kera sebagai teman baiknya. Pucuk di cinta ulam tiba, kini persahabatan pun telah terjalin antara Kera dan Kura-kura, mereka kini akrab dan satu sama lain saling mengasihi dan menyayangi. Hal itu membuat si Kura-kura betah tinggal bersama si Kera hingga ia lupa untuk kembali ke rumahnya.

Karena kepergiannya yang terlalu lama itu, istri si Kura-kura menjadi cemas dan gundah serta mengadukannya kepada tetangganya. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap suaminya atau suaminya mendapatkan musibah karena sudah lama ia tidak pulang. Mendengar keluhan istri sang Kura-kura, salah satu tetangganya memberitahu: ”Aku melihat suamimu berada di tepi pantai sedang bersenda gurau dengan Kera. Keduanya tampak akrab sekali. Pernah aku melihat mereka saling curhat satu sama lain dan keduanya tampak kelihatan akrab. Si Kera itulah yang membuat suamimu tidak pulang berhari-hari dan meninggalkanmu. Kamu tidak akan mampu memisahkan keduanya kecuali kamu lakukan tipu daya agar mereka berdua segera berpisah. Satu-satunya jala untuk memutus jalinan kasih mereka dan membuat suamimu kembali kepadamu adalah dengan membunuh si Kera”               

Mendengar itu si istri berkata:”Wahai tetanggaku, lantas apa yang harus aku kerjakan?”

Jika suamimu pulang kamu harus berpura-pura sakit dan bila ia bertanya tentang kondisimu, katakana aku sedang sakit parah dan para tabib mengatakan satu-satunya obat untuk menyembuhkan penyakit ini adalah dengan memakan hati Kera,” saran si tetangga. 

Selang beberapa waktu, si Kura-kura pulang ke rumah, namun betapa terkejutnya ia melihat istrinya dalam kondisi yang mengenaskan. Usai itu ia berkata: ”Ada apa dengan dirimu, wahai istriku? Aku tidak pernah melihatmu seperti ini.”

Kala itu, tetangga si Kura-kura hadir mendampinginya. Saat itu ia ikut menjawab: ”Istrimu sakit parah dan para tabib mengatakan bahwa satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya adalah dengan memakan hati Kera.”

“Ini adalah suatu yang sangat sulit dan berat, dari mana kita bisa mendapatkan hati Kera, sedangkan kita semua hidup di dalam air dan para Kera hidup di daratan bahkan di atas pohon?” jawab si Kura-kura jantan. 

Setelah itu ia mencoba memutar akalnya untuk menyelamatkan istrinya. Dalam hati ia berkata: ”Solusi terburuk adalah aku harus memperdaya sahabat Keraku.” Usai berkata dalam hati, ia langsung berenang ke tempat si Kera yang langsung disambut hangat oleh si Kera. Si Kera berkata:”Wahai sahabatku, kau membuatku kaget!” 

Dengan spontan si Kura-kura menjawab: ”Engkau juga telah mengagetkanku duhai karibku. Aku jadi malu padamu, karena tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terima kasihku kepadamu, utamanya membalas kebaikan budimu kepadaku. Aku berharap semoga kamu mau menyempurnakan kebaikanmu dengan datang berkunjung ke rumahku. Sungguh aku tinggal di pulau yang banyak buah-buahan yang segar dan enak. Wahai karibku, engkau bisa naik di atas punggungku dan lantas aku akan membawamu berenang dan berlabuh menuju ke tempatku di pulau yang penuh dengan buah.” 

Mendengar paparan si Kura-kura, sang Kera merasa sangat tertarik dan segera melompat ke punggungnya. Bersama Kura-kura itu, ia berenang menuju ke rumah si Kura-kura.  Di tengah perjalanan, si Kera mencium gelagat yang tidak baik dan instingnya mengatakan akan ada penghianatan atas dirinya. Karena itu, sambil menyelidik ia bertanya: ”Wahai temanku, aku melihat rona wajahmu begitu gelisah, tapi kenapa engkau justru mengajakku ke rumahmu, ada apa sebetulnya di rumahmu?” 

“Aku menjadi gelisah karena istriku sedang sakit Keras dan dalam kondisi yang mengenaskan. Meski demikian, aku ingin menghormati dan memuliakanmu. Karena itu, aku ingin mengajakmu ke rumah,” jawab si Kura-kura.

“Kalau kau menghormatiku wahai saudaraku, mengapa tidak meminta pertolonganku, sebab permintaan  tersebut menunjukkan kalau kamu menghormatiku,” jawab si Kera.  

Mendengar ucapan si Kera, si Kura-kura menyetujuinya, namun masih tetap bungkam dan terus berenang menuju ke rumahnya. Hal ini membuat si Kera memiliki prasangka buruk terhadapnya dan berkata dalam hati: ”Kura-kura ini tidak mungkin terdiam, seakan memendam sesuatu dalam dirinya, kalau tidak ada sesuatu. Aku yakin pasti ada sesuatu yang direncanakannya atas diriku. Atau bisa jadi ia akan berusaha mencelakaiku? Kalau tidak, kenapa rasa kasihnya terasas sangat kering? Tatapannya begitu nanar, guratan wajahnya menyiratkan karena pikirannya. Hatinya tidak sesejuk dahulu, perkataan dengan hatinya pun tidak seiring. Ia sudah berubah. Ahh…Tidak ada sesuatu yang lebih cepat berubah daripada hati makhluk. Aku yakin ia pasti akan melakukan hal yang tidak baik terhadap diriku. Sebab instingku mengatakan adanya geliat kebohongan dan makar yang begitu nyata pada guratan di wajahnya seolah akan membunuhku? Bukankah ada pepatah yang mengatakan: ‘adalah suatu keharusan bagi insan yang berakal untuk menyentuh hati keluarganya, putra-putrinya dan sahabat karibnya dalam setiap dimensi kehidupan, pada setiap perkataan dan perilakunya kapan dan di mana saja, baik dalam kondisi terjaga maupun tidak, sebab tampilan lahir menunjukkan sikap batin mereka.”  

Dalam hal ini orang-orang bijak telah menandaskan: ”jika tertanam dalam diri seorang sahabat sikap ragu akan karibnya, hendaknya ia selalu berlaku waspada demi menjaga kebeningan persahabatannya. Ia juga harus dengan cermat mengintrospeksi dirinya dalam berbagai dimensi kehidupannya, dengan begitu maka ia akan selamat. Bila apa yang dilakukannya tidak sesuai  dengan kenyataan, setidaknya ia telah beruntung dengan kehati-hatian dan kewaspadaannya sebagaimana yang dikatakan oleh seorang arif, orang yang berhati-hati dan selalu waspada dalam menjaga dirinya, bila ia tidak beruntung, maka setidaknya kewaspadaan dan kehati-hatiannya telah menyelamatkan dirinya. Dan kewaspadaan dan kehati-hatian tidak akan merugikan orang lain.” 

Kemudian si Kura-kura berkata: ”Wahai karibku, apa yang membuatmu berubah? Aku tidak pernah melihatmu sepanik ini? Sepertinya kamu tengah berkata-kata dalam hatimu tentang sesuatu. Namun yang terpenting bagiku kau mau datang ke rumahku, meski nantinya aku tidak bisa berbuat banyak utnuk menjamu dan menyenangkanmu sebab istriku sedang sakit keras.”

“Sudahlah kawan, kamu tidak usah merasa gelisah dan bersedih, sebab kesedihan tidak akan menguntungkan dirimu. Aku memilih diam, karena aku sedang sibuk memikirkan makanan dan obat apa yang bisa menyembuhkan penyakit istrimu. Itulah yang dari tadi memenuhi ruang pikiranku. Bukankah ada sebuah pepatah yang mengatakan, ‘Hendaknya sang kaya menafkahkan hartanya untuk empat hal. Pertama, pemberian sedekah. Kedua, membeli kebutuhan dirinya. Ketiga, keperluan biaya anak-anak. Dan keempat, keperluan biaya istri.” Kata si Kera. 

“Engkau benar wahai saudaraku,” jawab si Kura-kura. “Vonis para tabib telah mengatakan bahwa tidak ada obat yang bisa menyembuhkan sakit istriku kecuali memakan hati Kera” kata si Kura-kura. 

Mendengar pengakuan sang Kura-kura, si Kera menjadi sangat terkejut. Dalam hati ia segera berkata: ”Ahh…untunglah aku telah waspada dan sangat hati-hati terhadap diriku. Dalam usia yang sudah tidak muda lagi ini aku memang harus selalu berhati-hati dan waspada agar tidak terjebak dalam bencana. Sebab para arif berkata: ‘Orang yang selalu merasa cukup dan puas akan hidupnya, meski sebenarnya berada dalam kubangan kemiskinan dan kefakiran, ia akan merasa tentram dan tenang. Sebaliknya orang yang tidak merasa puas dan cukup, meski bergelimang harta dan kemewahan hidup, ia tidak akan menemukan kebahagiaan dan ketenangan hidup. Demikian pula orang yang hidup dalam kehati-hatian dan kewaspadaan diri, tidak akan terjebak pada kesulitan dan kekeruhan hidup.’ Setidaknya aku sekarang telah membuktikannya dan aku harus keluar dari ancaman bahaya ini dengan cerdas.” 

Usai berbisik dalam hati ia berkata kepada si Kura-kura: ”Wahai sahabatku, mengapa engkau tidak mengantarku ke rumah? Supaya aku bisa membawakan hatiku dan hati Kera lainnya untuk mengobati istrimu. Sebab sudah menjadi tradisi kami, para komunitas Kera, bila ada yang datang berkunjung ke rumah, kami akan menghadiahkan hati kami kepada para tamu. Bila engkau berkenan mengantarku untuk mengambil hatiku di rumah, tentu istriku pun akan dengan senang hati memberikan hatinya untukmu.” 

Mendengar bujukan Kera, sang Kura-kura bertanya dengan lugunya: ”Wahai kawan, memangnya di mana engkau taruh hatimu saat ini?” 

“Hatiku aku taruh di atas pohon tin,” jawab si Kera.  “Jika engkau menginginkannya, tolong antarkan aku kembali ke pohon tin itu untuk mengambilnya, bukankah kau ingin istrimu segera cepat sembuh?” 

Mendengar tawaran sang Kera, si Kura-kura merasa senang dan segera berucap dalam hati: ”Karibku telah memenuhi harapanku tanpa aku harus menghianatinya.” Akhirnya, dengan penuh semangat si Kura-kura mengantarkannya kembali ke tepi pantai.

Ketika telah sampai dekat pohon tin, si Kera dengan sigap langsung meloncat ke atas pohon dan segera bergelayut di dahannya dengan penuh syukur dan terima kasih kepada Tuhan tiada terhingga.  

Karena tidak lama turun dari pohon, akhirnya si Kura-kura berteriak memanggilnya: ”Wahai karibku, bergegaslah turun dan bawa serta hatimu, sungguh kamu telah membuatku gelisah.”

“Aku tidak akan turun dari pohon ini kawan.” Jawab si Kera dengan lantang. “Apakah kamu kira aku seperti keledai dungu yang dikisahkan si anjing hutan kepadaku tempo hari, wahai Kura-kura yang dungu dan culas?”

Mendengar ucapan si Kera, sang Kura-kura bertanya:”bagaimana detailnya cerita itu kawan?” 

inilah cerita keledai yang tak punya telinga

“Aku sengaja menceritakan ini kepadamu wahai Kura-kura, agar kamu paham dan mengerti bahwa kami, komunitas Kera, tidaklah seperti keledai dungu yang tidak pernah memakai hatinya untuk berfikir dan kedua telinganya untuk mendegar,” kata si Kera.

“aku tahu kamu merencanakan penghianatan terhadapku dan akan menipuku, maka aku pun dengan terpaksa menghianati dan menipumu terlebih dahulu. Menurutku, daripada aku kau tipu, sebaiknya kamu kutipu terlebih dahulu. Sebab aku ingat perkataan seorang arif: ”Orang yang telah menghancurkan kasih sayang tidak akan bisa disembuhkan kecuali dengan pengetahuan.” 

Mendengar paparan dari sang Kera, maka si Kura-kura berkata: ”Engkau benar kawan. Orang yang arif nan bijaksana adalah yang mengakui kesalahan dan kekhilafan dirinya. Jika melakukan dosa, dengan cepat ia akan melakukan taubat dan tidak malu untuk mengambil pelajaran, sebab kejujuran dan ketulusannya dalam berkata dan berbuat. Karena itu, maka segala perkataan dan perbuatannya selalu berada dalam koridor kejujuran dan keikhlasan. Jika terjebak dalam bencana, ia akan berusaha mencari pemecahannya dengan akal yang cerdas dan hati yang bersih layaknya seorang yang mencari bumi padahal ia berdiri tegak di atasnya. Itulah kisah dari seseorang yang mencari sesuatu yang didambakan, namun kala telah menemukannya, ia melepaskan semuanya dengan sia-sia karena kebodohannya. Itulah yang terjadi pada diriku dan harimau itu, wahai Kera yang cerdas. ” [Ibn Al Muqaffa]

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>