Seekor Harimau dan Anjing Hutan
Ditulis oleh harieshandoyo di/pada Januari 30, 2008
Seekor Harimau dan Anjing Hutan
Dahulu ada seekor Anjing Hutan di sebuah hutan, Anjing Hutan ini berbeda dari binatang buas lainnya. Ia sangat gigih menjaga kehormatan dirinya. Ia adalah seekor Anjing Hutan yang tidak serakah terhadap kehidupan duniawi. Anjing tersebut penuh santun dan sangat sayang terhadap sesame hewan, terutama hewan kecil dan hewan buas. Ia jarang sekali melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Anjing tersebut hidup dengan corak yang sangat kontras dengan kehidupan binatang buas lainnya yang ada di hutan tersebut. Ia tidak rakus akan harta duniawi serta tidak memakan daging seperti layaknya hewan buas lainnya. Semua komunitas hewan buas yang ada di hutan tersebut menaruh sikap antipati dan memusuhinya. Pada suatu hari komunitas binatang buas datang menemuinya dan berkata: “Kami segenap komunitas binatang buas tidak setuju dengan jalan hidupmu anda, terutama laku asketis yang meninggalkan kenikmatan dunia. Menurut kami, laku asketis anda sama sekali tidak menguntungkan diri sendiri. Sedarkah anda wahai Anjing Hutan? Seharusnya anda hidup bahu membahu serta berburu selayaknya yang kami perbuat. Lantas apa yang mendasarimu anti pertumpahan darah? Apa yang melatarimu tidak mau memakan daging?”
Mendengar pertanyaan tersebut, si Anjing Hutan menjawab: “Persahabatanku dengan kalian, wahai komunitas binatang buas, tidak menyebabkan diriku berdosa, kecuali diriku sendiri yang melakukan dosa. Sebab dosa tidak lahir dari tempat dan para sahabat, melainkan dari hati dan perbuatan sendiri. Jika ada hewan yang baik lantas tinggal disebuah kampung, tidak otomatis kampung itu akan menjadi baik, sebaliknya jika hewan yang tidak baik tinggal di suatu tempat, bukan berarti tempat itu dengan serta merta menjadi tidak baik. Sebab jika demikian, apakah menurut kalian membunuh makhluk yang rajin di tempat ibadah mereka bukan merupakan suatu dosa? Sebaliknya hewan yang menolong temannya dari kematian dalam sebuah pertempuran, apakah itu termasuk dosa? Sesungguhnya aku akan berkawan dengan kalian dengan keutuhan jasadku, bukan dengan hati dan perbuatanku. Sebab aku pahami betul konsekuensi logis yang aku hadapi sebagai akibat perbuatanku dan aku lebih tahu ketimbang kalian tentang diriku dan apa yang aku perbuat.”

4 harimau dalam 1 gambar
Anjing Hutan tetap konsisten dengan sikapnya dan tidak bergeming dengan adanya mosi dari komunitas para binatang buas. Hal ini membuat dirinya terkenal di seantero hutan sebagai hewan yang asketis dan pegiat ibadah yang mumpuni. Pada akhirnya, kezuhudan dan kealimannya terdengar hingga ke telinga sang Harimau, si penguasa tunggal daerah tersebut. Sang Harimau sangat mengagumi sifat asketisme, kealiman, dan kejujuran si Anjing Hutan, terutama pribadinya yang selalu menjaga kehormatan diri serta kesantunannya kepada sesama hewan. Kemudian sang Raja hutan mengirimkan utusan untuk memanggil si Anjing Hutan untuk datang ke istana menghadap kepada dirinya. Saat datang menghadap, si Anjing Hutan di jamu dengan hidangan yang menyenangkan. Selain itu, sang Harimau pun berusaha mengenali lebih dekat sosok Anjing Hutan yang disegani itu. akhirnya, dalam diri sang Raja tumbuhlah keyakinan bahwa sosok seperti Anjing Hutan inilah yang pantas mendampinginya dalam menjalankan roda kekuasaan.
Beberapa waktu kemudian, sang Harimau memanggil si Anjing Hutan dan berkata kepadanya: “Wahai Anjing Hutan, seperti yang kamu lihat bahwa para pekerjaku sangat banyak dan para pembantuku tidak sedikit jumlahnya. Meski demikian, aku berharap kamu mau untuk bekerja di istana ini. Sebab, seperti yang telah aku amati, kau adalah hewan yang menjaga kehormatan diri, selalu menjaga kredibilitas ,dan selalu membiasakan akhlak yang mulia. Menurutku, kamu adalah sosok yang memiliki kecerdasan yang tinggi dan ahli ibadah yang mumpuni. Itulah alasanku meminta driimu untuk bekerja mendampingiku. Aku ingin kamu menduduki jabatan strategis di keRajaan ini dan aku akan memberikan posisi yang paling mulia di sisiku. Aku ingin menjadikanmu sebagai pejabat khusus ku.”
Anjing Hutan hutan pun berkata: “Setiap Raja berhak memilih para pembantu untuk memperlancar semua tugasnya dan mengurusi kebutuhannya. Meski demikian, hendaknya setiap Raja memilih para pembantu yang tidak terpaksa dalam bekerja. Sebab keterpaksaan dalam bekerja tidak akan menghasilkan sesuatu yang maksimal. Sementara itu, bagiku, bekerja di keRajaan tidak tidak akan membuatku bebas dan aku sangat membenci pekerjaan di keRajaan, apalagi aku sama sekali tidak memiliki pengalaman bekerja di keRajaan. Selain itu, aku pun bukan karib Raja. Sedangkan anda adalah Raja para binatang dan penguasa hutan ini, yang tentunya mempunyai banyak kolega dari para binatang buas di hutan ini. Saya yakin banyak diantara mereka yang cerdik dan pandai, serta banyak pula yang kuat nan digdaya. Tentunya, mereka memiliki loyalitas yang tinggi sebagai sesama binatang buas. Lebih dari itu, tentunya kalian sudah saling kenal dan akrab satu sama lain. Oleh karena itu, jika paduka mengambil mereka sebagai abdi tentu akan menguntungkan paduka, sebab mereka adalah mitra yang baik dalam memajukan keRajaan ini.”
Mendengar saran tersebut sang Harimau berkata: “Terima kasih atas nasehatmu, wahai Anjing Hutan. Namun demikian, aku tetap masih memintamu bekerja denganku dan ku mohon kamu bersedia.”
“Pasangan yang menginginkan bekerja dengan Raja ada dua jenis, dan aku tidak termasuk didalamnya. Pertama, sang penjahat munafik sekaligus penjilat nomor satu yang hanya mementingkan kesenangan dan kekayaan diri. Ia berusaha mengais kekayaan tersebut dengan cara yang curang dan dengan sangat lihainya menutupi kebusukannya tersebut dari sang Raja. Kedua, sang bodoh nan tolol yang tidak akan didengki oleh yang lainnya. Model si pengabdi kedua adalah dia yang bisa membaktikan dirinya kepada sang Raja dengan modal kejujuran dan harga diri, serta tidak menjilat sesamanya. Dalam model pengabdian semacam ini, sedikit peluang bagi dirinya untuk bisa selamat, karena pengabdi yang bersih semacam itu biasanya menjadi santapan yang empuk bagi para musuh Raja dan para penjilat untuk memuntahkan dan melampiaskan kedengkiannya, sedangkan posisinya akan selalu diincar dan dibidik oleh para musuh Raja dengan senjata fitnah dan hasutan keji. Jika sang pengabdi yang jujur dan hewan yang teguh menjaga dirinya berada dalam lingkaran para penjilat dan para hipokrit, jurang kehancurannya lebih dekat ketimbang dengan keselamatannya. Seperti kisah Syatrabah si Kerbau dengan Raja Harimau. Dan itulah yang akan ku alami jika menjadi pejabat paduka, dan aku tidak ingin bernasib seperti itu”
Mencermati perkataan si Anjing Hutan, sang Raja segera menukas, “Para sahabatku tidak ada yang menaruh dendam terhadapmu, dan mereka tidak ada yang berani melakukan kebusukan terhadapmu, karena aku akan langsung melindungimu dan memberimu posisi yang paling mulia sepadan dengan kemuliaanmu di keRajaan ini. Jadi, tidak mungkin mereka berani macam-macam kepadamu.”
“Jika memang anda ingin melakukan kebaikan terhadapku, wahai baginda Raja hutan, biarkan diriku menjauhi istana dan hidup tenang di tengah komunitas rakyat di jagad hutan raya. Sebab aku lebih menikmati hidup di hutan meski dengan sedikit air dan rumput. Selain itu, aku juga pernah mendengar pameo mengatakan: ‘Bila pemegang kekuasaan ditimpa kesakitan dan ketakutan sehari, maka sakitnya melebihi derita dan ketakutan rakyat jelata sepanjang hidup’. Bagiku, kehidupan sederhana nan bersahaja yang penuh ketenangan dan kedamaian lebih baik ketimbang kehidupan yang bergelimang harta namun tanpa ketenangan dan kedamaian,” jawab si Anjing Hutan.
“Aku paham dengan arah pembicaraanmu. Tapi kamu tidak perlu merasa khawatir, sebab menurutku tidak ada alasan lain bagimu untuk khawatir bekerja sama denganku. Aku akan selalu menjaga dan memperhatikanmu,”ucap sang Raja meyakinkan.
Menyimak kemauan sang Raja yang bersikeras memintanya mengabdi di istana akhirnya si Anjing Hutan berkata: “Bagaimana jika anda nanti kelak mengingkari ucapan anda tersebut? Maukah anda memberikan jaminan untukku? Utamanya ada tuntutan dari pandega keRajaan atau pihak lain yang mengincar posisiku bersediakah anda wahai penguasa hutan memberiku jaminan tertulis dalam sebuah perjanjian? Jika kelak ada laporan yang membisikimu bahwa aku melakukan kejahatan, bersediakah anda menelisik dan menyelidiki laporan tersebut dan tidak bersegera menjatuhkan vonis sebelum mengetahui kebenaran yang dibuktikan oleh data yang lengkap? Bila data sudah lengkap dan memang begitulah kenyataannya barulah anda boleh mengambil keputusan atas perkara tersebut. Jika anda bersedia melakukannya, maka dengan senang hati aku akan menjadi pengabdimu. Aku akan mematuhi semua perintahmu dan kukerjakan semua tugas dengan penuh dedikasi dan loyalitas tinggi.”
“Aha…Itulah yang kuharapkan darimu,” ucap sang Raja hutan seraya tersenyum. Akhirnya, sang Raja bisa menjadikan si Anjing Hutan sebagai kepala rumah tangga keRajaan yang memegang kendali penuh atas kekayaan Negara. Sebuah kedudukan yang sangat elit dan menjadikan si Anjing Hutan sebagai tokoh nomor dua paling berpengaruh setelah Raja di keRajaan tersebut.
Ketika para pandega dan tentara keRajaan mengetahui berita pengangkatan Anjing Hutan yang asketis tersebut, mereka melancarkan protes dan menyatakan keberatan dengan keputusan Raja. Kemudian, kala aspirasinya tidak ditanggapi, mereka merencanakan makar dan propaganda agar hubungan Raja dengan si Anjing Hutan menjadi putus. Dan kebetulan, pada hari itu, sang Raja memperoleh kiriman makanan berupa daging segar yang segera menyuruh si Anjing Hutan untuk menyimpannya di tempat makannya. Dengan baik tugas tersebut dilaksanakan oleh si Anjing Hutan. Sementara itu, pihak-pihak yang merencanakan makar mengambil daging segar tersebut dan menyembunyikannya dirumah si Anjing Hutan tanpa sepengetahuannya. Ketika waktu makan tiba, sang Raja tidak menjumpai daging segarnya. Dan walau telah berusaha mencarinya, namun tetap tidak menemukannya.
Kemudian, sang Raja mengumpulkan para pandega keRajaan dalam sebuah majelis pertemuan. Setelah semua berkumpul, sang Raja bertanya kepada mereka: “Siapa yang melihat atau bahkan mengambil daging segar milikku?” semua yang hadir dalam majelis itu saling beradu pandang dan saat itulah para pandega yang tidak setuju dengan si Anjing Hutan melakukan provokasinya. Salah satu diantara mereka berdiri seraya berkata: “Aku harus mengatakan yang sejujurnya kepada paduka, meskipun pahit untuk diungkapkan. Namun, dengan terpaksa aku harus mengatakannya demi penguasa kita. Wahai paduka Raja, ada yang memberitahuku bahwa daging segarmu itu diambil oleh Anjing Hutan dan disimpan di rumahnya.”
Mendengar provokasi tersebut yang lain berkata: “Aku tidak percaya Anjing Hutan yang tekun beribadah dan sangat dipercaya oleh baginda Raja mau berbuat senista itu. namun sebaiknya kita periksa saja rumah si Anjing Hutan, sebab bisa jadi kabar itu benar adanya.”
Sementara itu yang lain menambahkan: “Misteri ini tidak akan terungkap kecuali bila kita periksa, bahkan bila perlu, geledah secara bersama-sama rumah si Anjing Hutan. Sebab, firasatku mengatakan bahwa daging itu berada di rumah si Anjing Hutan dan asumsiku dikuatkan dengan tuduhan yang ditujukan kepada si Anjing Hutan itu.”
Demikian juga dengan para pandega lainnya mereka mengatakan: “Jika benar daging tersebut berada di rumah si Anjing Hutan, maka ini tidak hanya sebuah pengkhianatan, bahkan pengingkaran atas segala anugerah yang telah diberikan Raja kepada dirinya, dan hal itu sangat menyakitkan, terutama bagi baginda Raja.”
Situasi ini bertambah panas dengan komentar pandega lainnya: “Kalian adalah binatang yang bijak dan mulia. Namun alangkah baiknya jika ada utusan kita yang pergi menggeledah rumah si Anjing Hutan untuk memastikan apakah daging itu benar-benar disembunyikan oleh si Anjing Hutan di rumahnya atau tidak?”
Sementara itu yang lainnya menimpali: “Jika paduka Raja berkenan untuk memeriksa rumah si Anjing Hutan kenapa tidak menyuruh dinas intelejen kita untuk mengusutnya secepat mungkin agar masalah ini cepat selesai? Saya rasa itu langkah terbaik yang bisa kita lakukan.”
Perdebatan yang terjadi dalam forum itu membuat sang Raja hutan berada dalam posisi yang serba sulit dan dilematis, hingga akhirnya ia bertanya kepada si Anjing Hutan: “Wahai Anjing Hutan, dimanakah engkau menaruh daging segar itu? bukankah aku telah menyuruhmu untuk menaruh di tempat makanku?”
Si Anjing Hutan menjawab: “Aku telah menyerahkannya ke bagian logistik keRajaan.”
Malang bagi si Anjing Hutan, bagian logistik keRajaan yang ia serahi ternyata merupakan termasuk komplotan dan sekutu dari para hewan yang telah melakukan makar terhadap si Anjing Hutan. maka dengan mantap mereka pun menjawab: “Sang Anjing Hutan ini tidak pernah menyerahkan daging segarnya kepadaku dan aku tidak tahu menahu tentang daging segar itu.”
Setelah mendengar perkataan dari bagian logistik keRajaan yang menyangkal perkataan si Anjing Hutan akhirnya Raja memutuskan untuk mengutus dinas intelejen untuk menyelidiki dan menggeledah rumah si Anjing Hutan. Di sana, dinas intelejen menemukan daging segar yang dimaksud, lalu daging itu langsung dibawa ke hadapan sang Raja. Dalam majelis tersebut ada seekor Srigala yang memilih diam sebelum jelas ada bukti yang di tuduhkan kepada si Anjing Hutan. Sebab baginya, bukanlah sebuah kearifan bila berkomentar tanpa disertai bukti dan data yang nyata. Namun manakala telah melihat sebuah bukti kuat, ia lantas berkata: “Setelah paduka mendapatkan bukti nyata atas pengkhianatan si Anjing Hutan adalah ketololan besar jika paduka masih memaafkannya. Sebab jika paduka memaafkan pengkhianat, maka selamanya si pengkhianat tidak akan pernah tahu arti dan konsekuensi buruk dari sebuah pengkhianatan, dan yang demikian itu dapat menimbulkan pengkhianat-pengkhianat baru.”
Merasa tidak dapat membantu si Anjing Hutan yang sudah tersudut, akhirnya sang Raja Hutan memerintahkan si Anjing Hutan keluar dari majelis pertemuan dan memerintahkannya pergi menyelamatkan diri. Dalam majelis itu, ada seorang pandega yang masih memiliki hati yang jernih dalam menyikapi kasus ini. Dalam hati ia berkata: “Aku sangat heran melihat kekerdilan dan kesempitan pola pikir sang Raja dalam menyikapi permasalahan ini. Akibatnya, ia tidak mengetahui mana musuh dan mana kawan sejatinya. Aku yakin, pada suatu saat kelak matanya akan melihat yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.”
Selang beberapa hari, sang Raja mengutus salah satu pandeganya menemui Anjing Hutan untuk meminta maaf. Namun utusannya ternyata adalah salah satu pandega yang melakukan makar terhadap si Anjing Hutan dan dengan sengaja ia lalu mendistorsi ucapan dan memutarbalikan fakta dan berhasil memfitnah si Anjing Hutan saat melaporkan hasil tugasnya kepada sang Raja. Akibatnya, bukan perbaikan hubungan, sang Raja malah menjadi murka dan menyuruh aparat keadilan dan algojo keRajaan untuk menangkap dan membunuh si Anjing Hutan.
Namun, atas kuasa Allah SWT, ibunda Raja yang bijaksana dan lemah lembut mengetahui masalah yang menimpa si Anjing Hutan dengan rinci dan gambling. Karena itu, ia berupaya menunda waktu eksekusi yang akan dilaksanakan para algojo keRajaan dengan menemui putranya. Ketika mereka sedang berdua, ibunda Raja bertanya: “Wahai putraku, atas dasar apa kau menyuruh membunuh Anjing Hutan ini?” kemudian Raja menjelaskan secara detail kepada ibunya tentang permasalahan yang terjadi.
Namun mendengar uraian putranya, ibunda Raja berkata: “Wahai putraku, tangguhkan keputusanmu! Karena sosok yang berakal hanya akan selamat dari penyesalan bila ia tidak tergesa-gesa dan berusaha memahami suatu permasalahan. Sikap tergesa-gesa akan melahirkan penyesalan dan sikap gegabah hanya lahir dari orang yang berfikiran sempit dan berhati kerdil. Adapun engkau putraku, engkau adalah penguasa tunggal hutan ini seharusnya kamu lebih berhati-hati dan tidak gegabah dalam menilai serta memutuskan sesuatu, terutama harus menumbuhkan kasih dan kesantunan kepada sesama. Sebagaimana perempuan terhadap suaminya, seorang anak kepada orang tuanya, seorang murid terhadap gurunya, seorang tentara kepada jendralnya, seorang pegiat ibadah kepada Tuhannya, rakyat kepada Rajanya, seorang Raja dengan rasa taqwanya, dan ketaqwaan dengan akal, serta akal dengan kehati-hatian. Pokok semua itu adalah kehati-hatian dalam bersikap dan bertindak, dan pokok kehati-hatian seorang pemimpin adalah kejelian dalam mengamati kawan-kawan dekatnya dan menempatkan mereka pada posisi yang sesuai dengan keahlian dan kemampuannya.”
“Di samping itu juga tidak menuduh sesama kecuali dengan disertai bukti yang nyata. Sedangkan engkau, wahai putraku, sudah pernah menjajaki sosok Anjing Hutan dan engkau sudah menguji kejujurannya. Engkau sudah melihat kejujurannya, keteguhan, dan ketulusannya dalam menjaga kehormatan diri, terlebih kehormatanmu. Ia adalah hewan yang setia dan patuh terhadap perintahmu. Jujurlah dengan dirimu, apakah selama ini ia pernah menodai kepercayaanmu? Membangkang terhadap perintahmu? Berbuat tidak santun terhadapmu? Sejak kedatangannya di istana, aku tidak pernah melihat dirinya melakukan pengkhianatan terhadapmu dan keluarga kita. Jadi, apakah kebaikan, ketulusan, dan dedikasinya yang tinggi akan kamu pungkiri hanya demi secuil daging segar kamu dengan arogan akan segera menghabisi nyawanya? Logiskah keputusanmu, wahai putraku?
Cobalah kau fikir dengan akal jernih, apakah ketulusan, kealiman, dan kehormatannya yang ia jaga selama ini akan ia nodai dengan perbuatannya mencuri secuil daging segar milikmu yang mungkin bisa ia dapatkan bila memintanya kepadamu, walaupun selama ini kaupun mengetahui bahwa ia tidak memakan daging hewan apalagi dengan cara mencuri dan mengambil bagian orang lain, masuk akalkah semua kejadian ini wahai putraku? Tidakkah kamu pernah berfikir, bahwa posisi yang kau berikan kepadanya tidak memicu yang lain untuk merasa iri dan membuat makar terhadapnya? Tidakkah kamu tahu banyak pandega keRajaan yang ingin merebut posisinya? Nuraniku mengatakan ada pihak yang sengaja memanfaatkan kelengahan untuk mencuri daging itu dan menyembunyikannya di rumah si Anjing Hutan yang sedang sibuk mengabdi kepadamu untuk memfitnah si Anjing Hutan. Pihak-pihak yang sakit hati dan iri sengaja melakukan propaganda untuk membuat makar terhadap si Anjing Hutan yang asketis itu. Pernahkah engkau memperhatikan burung elang? yang bila dua kakinya menggamit secuil daging tentu burung-burung lain akan mengerubuti dan berusaha merebutnya. Demikian pula bila kau lihat seekor singa yang sedang melahap binatang hasil buruannya, maka Anjing Hutan, Hyena, dan Burung Bangkai akan mengerubutinya dan berusaha untuk mendapatkan bagian. Dan sejak kali pertama si Anjing Hutan datang ke istana ini, ia selalu mendatangkan kemanfaatan bagimu dan keluarga kita. Ia senantiasa mendatangkan kesejukan, selalu terbuka, dan tidak pernah menyembunyikan sesuatu tentang dirinya.”
Ketika ibunda Raja sedang memaparkan keyakinannya kepada sang putra, tiba-tiba datang seorang penasehat Raja senior yang telah mengabdi semenjak Ayahnya yang bertahta dan telah menjadi orang kepercayaan Raja yang mengabarkan bahwa dinas rahasia yang berada di bawah koordinasinya berhasil membongkar makar yang telah dimotori oleh para oknum punggawa keRajaan yang tidak setuju akan kehadiran si Anjing Hutan di keRajaan ini. Dengan kata lain bahwa ia mengatakan kalau si Anjing Hutan ternyata tidak bersalah dan hanyalah korban fitnah.
Mendengar hal itu ibunda Raja sangat gembira dan berkata: “Pemimpin sebaiknya tidak membiarkan hidup mereka yang membahayakannya, sebab hal itu akan melahirkan bencana yang lebih besar. Seyogyanya, pemimpin menghukumnya dengan sangksi yang berat agar mereka jera dengan perbuatan mereka, dan membuat orang yang ingin melakukan hal yang sama akan berfikir seribu kali sebelum melakukannya. Selain itu, merupakan keharusan pemimpin untuk tidak menunda kebaikan dari keburukan, kesehatan dari kesakitan, kezuhudan dari kemungkaran, dan kealiman dari keatheisan. Juga keharusan bagi pemimpin adalah memberikan hukuman bagi pihak yang salah dan memberikan penghargaan dan penghormatan bagi mereka yang berjasa dan berbuat kebaikan. Pun sepatutnya ia menahan diri dari kemarahan dan kemurkaan. Karena barang siapa yang mudah marah dengan urusan yang sepele, maka ia tidak akan pernah merasa puas dengan hal-hal yang banyak. Kunasehatkan kepadamu wahai putraku, untuk mengembalikan Anjing Hutan itu kepada posisinya semula. Perlakukan ia dengan baik dan jangan mudah termakan provokasi. Sebagai pemimpin, seharusnya kau menjauhi isu-isu yang sumbang dan ingatlah wahai putraku, jangan sampai kamu menjauhi mereka yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta tahu akan kemuliaan harga dirinya. Sebab mereka adalah yang setia memegang janji, tahu berterima kasih, tulus, jujur, dan hatinya bersih dari rasa dengki. Mereka adalah yang menjauhi marabahaya dan setia kawan serta tulus dalam bersahabat. Mereka adalah yang tidak memiliki tendensi dan kepentingan pragmatis dalam bersahabat.”
Adapun sosok yang harus kau jauhi adalah mereka yang gampang ingkar janji, mudah berkhianat, tidak tahu diri, tidak tahu berterima kasih, hipokrit, tidak setia, bengis, dan tidak memiliki kasih sayang. Juga mereka yang tidak bisa menjaga diri, yang jauh dari Tuhannya, yang tidak mempedulikan hari kiamat dan siksa akhirat, yang berhati busuk dan yang tidak tulus dalam berteman. Aku sangat tahu persis tidak ada sifat-sifat tersebut dalam diri si Anjing Hutan dan engkau seharusnya menyambung benang putus antara dirimu dengan si Anjing Hutan serta mulailah langkah baru dengan mengubur kekhilafan masa lalu.
Mendengar nasehat ibundanya, sang Harimau segera memanggil si Anjing Hutan dan menyampaikan permintaan maaf atas apa yang terjadi antara dirinya dengan si Anjing Hutan. Ia berjanji akan berlaku baik dan menghormatinya. “Aku mohon maaf kepadamu dengan ketulusan hati wahai kawanku Anjing Hutan. Aku harap semoga engkau mau tetap pada posisimu sebagai kepala rumah tangga keRajaan ini,” pinta sang Raja.
Mendengar permintaan sang Raja si Anjing Hutan hutan pun berkata: “Seburuk-buruk sahabat adalah:
yang mengambil keuntungan sendiri dengan mengorbankan yang lain,
yang tidak memikirkan sahabatnya layaknya ia memikirkan dirinya sendiri,
yang mendukung laku mungkar sahabatnya demi memperturutkan hawa nafsu,
yang membangun dirinya dengan menistakan sahabatnya yang lain.
Itulah yang sering terjadi dalam dunia persahabatan. Aku yakin kalau anda, wahai diraja hutan belantara, telah mengerti tentang diriku. Janganlah anda mencampurkan omongan yang tidak benar tentangku dengan apa yang anda lihat dan anda pahami. Sebab yang demikian itu bukanlah watak seorang sahabat yang sejati. Sebagai pemimpin, janganlah anda melebih-lebihkan hukuman karena kekuasaan anda, khususnya kepada mereka yang mengaku bersalah. Dan jangan pula terlalu mentolelir kebusukan dan pengkhianatan tanpa ada hukuman, sebab pemimpin yang arif nan bijaksana adalah yang meninggalkan keharuman jasa dan kebajikan paska kekuasaannya serta membuat rakyat akan merasa kehilangan dirinya. Akibatnya, kebaikan dan jasanya akan selalu dikenang di mana pun ia berada.”
Sang Raja sangat memperhatikan perkataan si Anjing Hutan dengan seksama. Usai menyimak, ia berkata: “Aku telah mencermati loyalitasmu, kemuliaan akhlakmu, dan kebaikan budi pekertimu. Selain itu, aku juga telah menguji kejujuran dan kesetiaanmu, dan aku menyadari dari lubuk hatiku yang paling dalam bahwa aku telah terjebak dalam perangkap pihak-pihak yang sengaja mengeruhkan tali persahabatan kita. Anda adalah hewan terhormat yang pantas disejajarkan dengan para makhluk yang mulia dan terpilih. Makhluk mulia adalah yang bisa melupakan satu kesalahan dengan kebaikan di tengah belantara isu dan propaganda yang menjijikan. Aku berserta penghuni istana telah kembali membangun kepercayaan kepadamu. Kumohon bangunlah kepercayaanmu kepada kami agar tercipta kebahagiaan dan keceriaan di antara kita. Selain itu, mari kita kubur apa yang telah terjadi di antara kita”
Pada akhirnya, para punggawa kerajaan dan oknum kerajaan lainnya yang melakukan makar terhadap si Anjing Hutan mendapatkan hukuman yang berat, dan si Anjing Hutan pun bersedia kembali menduduki jabatan yang selama ini ia tinggalkan. Dengan tekun dan penuh tanggung jawab, ia menjalankan tugas-tugasnya. Sementara itu, baginda Raja dan segenap seluruh keluarganya sangat mencintai dan menghormatinya. Kasih sayang dan penghormatan sang Raja berikut segenap penghuni istana kepada si Anjing Hutan yang asketis tersebut selalu bertambah seiring dengan bertambahnya hari. Mereka hidup dalam kasih sayang dengan saling menghormati, saling percaya, dan saling menghargai satu sama lain. [Ibn Al Muqaffa]
grredi berkata
cerita paling busuk yang pernah saya baca.saya bahkan tidak berminat menuntaskan membaca tulisan busuk anda.maaf ya.saya masih punya akal sehat dan tidak akan terpengaruh cerita busuk anda..ha..ha..ha.
harieshandoyo berkata
sayang ya tidak dibaca sampai selesai..he..he..ceritanya memang ada yang bikin kesel, tetapi selalu ada pelajaran di dalamnya…tujuan ditulis biar bisa diambil hikmahnya, ambil yang baik-baik aja n supaya jangan tiru yang busuknya. OK!