Tikus yang Memakan Besi
Ditulis oleh harieshandoyo di/pada Januari 30, 2008
Tikus yang Memakan Besi
Di suatu negeri, ada seoran saudagar yang hendak berpergian jauh untuk mencari rezeki dan mencari keberuntungan. Sebelum berpergian, si saudagar menitipkan 100 kg besi miliknya kepada salah satu karibnya. Usai itu, ia lantas pergi kesebuah negeri yang jauh di sana untuk mengadu nasib.
Setelah lama merantau dan kurang berhasil ia pun lalu pulang ke kampungnya, ia mendatangi karibnya untuk mengambil besi yang pernah dititipkannya dahulu, sebelum ia pergi. Namun sang karibnya malah berkata: “bijih besi itu sudah habis dimakan tikus-tikus besar yang ada di bumi ini.”
Mendengar itu, si saudagar tidak percaya dan berkata: “sejauh yang kutahu dan kudengar tidak ada tikus-tikus bumi yang memakan besi, tapi entahlah jika tikus di sini mampu melakukannya.” Melihat respon si saudagar, sang karib terlihat amat senang dan amat yakin kalau si saudagar terpedaya dengan ceritanya.
Setelah itu, si saudagar pamit kepada karibnya untuk pulang ke rumah. Di tengah jalan, si saudagar bertemu dengan anak karibnya lalu diajaklah untuk main ke rumahnya. Ke esokkan harinya sang saudagar datang ke rumah karibnya dan sesampainya di sana ia ditanya oleh karibnya: “Apakah kamu tahu keberadaan anakku?”
Sang saudagar pun menjawab: “ketika aku keluar dari rumahmu kemarin, aku melihat seekor burung gereja membawa terbang seorang anak laki-laki kecil, mungkin saja itu anakmu”
Mendengar itu, dengan gerakan refleks sang karib menempeleng si saudagar seraya berkata: “wahai penduduk kampung, apakah kalian pernah mendengar dan pernah tahu bahwa ada seekor burung gereja yang bisa menyandera seorang anak kecil?”
Namun dengan sergap si saudagar berkata: “Ya, ada. Sebab jika tikus-tikus bumi saja bisa memakan besi 100 kg, mengapa burung gereja tidak bisa menyandera seorang anak kecil? dan tidak mustahil kalau kain putramu juga dicuri oleh seekor gajah.”
Sadar akan jawaban si saudagar yang menyindirnya, sang karib akhirnya berkata dengan jujur: “Kuakui bahwa aku telah menjual besi yang telah kau titipkan dan mungkin inilah ganjaran yang harus aku terima dari perbuatan tidak terpuji itu. Sekarang aku mohon kepadamu, tolong kembalikan anakku dan aku mengakui kekhilafanku dan aku berjanji akan mengembalikan barangmu sesegera mungkin.” [Ibn Al Muqaffa]

