Gudang Hikmah Ku

Setetes Hikmah yang Ku Peroleh dari ALLAH Sang Pemilik Ilmu

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘hikmah’

Unta yang Malang

Ditulis oleh harieshandoyo di/pada Januari 30, 2008

Unta yang Malang

river-of-life.jpg

wild life 

Ada sebuah hutan yang sering dilalui oleh manusia. Di sana, hiduplah seekor Singa yang merupakan sang penguasa hutan, dan ia memiliki tiga teman setia yaitu; Srigala, Burung Gagak, dan Anjing Hutan. Suatu hari, hutan itu dilalui oleh serombongan kafilah yang membawa seekor Unta yang secara tiba-tiba tidak mau meneruskan kembali perjalanan. Untungnya pimpinan kafilah itu orang yang baik karena ia membiarkan Unta tersebut dalam keadaan hidup dan tidak membunuhnya.

 

Di hutan tersebut Unta yang ditinggalkan kafilah tersebut bertemu dengan Singa, sang penguasa hutan. Kala itu, sang Singa bertanya kepadanya:”Dari mana kamu berasal?”

 

“Aku berasal dari negeri yang jauh,”kata si Unta.

 

“Ada keperluan apa anda tetap tinggal di hutan ini dan tidak melanjutkan perjalanan bersama rombongan anda?” Tanya si Singa.

 

“Aku tidak ada perlu apa-apa, aku hanya ingin tinggal di hutan ini dan aku pasrahkan hidupku pada anda sebagai penguasa hutan ini” jawab si Unta.

 

“Kalau begitu, tinggallah bersama kami di bumi yang luas serta subur ini sesuka hatimu, kami menerimamu dengan tangan terbuka.” Kata si Singa.

 

Kemudian mereka pun hidup saling bahu-membahu satu sama lain dan kehidupan mereka penuh dengan kedamaian dan ketentraman. Kehidupan nyaman itu terus berlanjut hingga suatu hari, kala si Singa bertemu dengan gajah besar. Akhirnya terjadilah pertempuran antara Singa dan gajah, namun meski si Singa akhirnya bisa menyelamatkan diri, tetapi tubuhnya terluka parah dan terus mengalirkan darah segar karena dibanting dan diinjak oleh sang gajah. ketika sudah sampai di tempat kediamannya, Singa mendapati tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan lagi dan ia merasa dirinya kini sudah tidak dapat lagi berburu binatang.

 

Derita itu ternyata juga sangat berdampak pada Srigala, Burung Gagak, dan Anjing Hutan. Sebab dengan lumpuhnya si Singa, mereka tidak mendapatkan makanan. Karena selama ini si Singalah yang telah berburu dan memberi makan kepada mereka. Sekarang mereka semua sedang tertimpa kelaparan dan kondisi mereka sangat memprihatinkan.”

 

Dalam kondisi duka seperti itu, sang Singa berkata kepada mereka: “berusahalah kalian untuk mencari makanan untuk diri kalian!”

 

Mereka berkata: “kami tidak pernah memperdulikan nasib kami, pikiran dan hati kami semata-mata terfokus pada nasib yang menimpa diri anda, duhai paduka Raja. Mudah-mudahan kami bisa menemukan rezeki untuk menyembuhkan dan memberi makan anda.”

 

“Aku tidak pernah ragu akan loyalitas kalian, namun dalam keadaan seperti ini, sebaiknya kalian berhenti merenungi nasib dan pergilah mencari buruan. Semoga kalian bisa mendapatkan hewan buruan untuk makan kita bersama.”

 

Kemudian Srigala, Burung Gagak, dan Anjing Hutan pergi meninggalkan si Singa. Di tengah perjalanan, mereka bermusyawarah guna mencari solusi agar keluar dari derita yang mengungkung mereka. Tiba-tiba salah satu dari mereka berkata:”kenapa kita tidak menghabisi si Unta saja, ia yang jelas ada didepan mata kita? Bukankah keberadaannya tidak membawa untung bagi kita? Daripada susah payah mencari hewan buruan, lebih baik Unta tersebut saja yang kita bunuh untuk dijadikan santapan Raja dan kita”

 

“Aku sangat setuju dengan usulan ini, tapi sepertinya akan susah bagi kita untuk mengutarakannya pada sang Raja, sebab selama ini ia lah yang bertanggung jawahb dan menjadi pelindung Unta tersebut” jawab si Anjing Hutan.

 

“Masalah menyampaikan ini kepada Raja biar aku yang urus, aku yakin bisa meyakinkannya.” Kata si Burung Gagak.

 

Kemudian mereka bertiga kembali menemui sang Raja. Ketika melihat kedatangan mereka, sang Raja bertanya: “Mengapa kalian ke sini lagi? Apa kalian sudah membawa hewan buruan.”

 

“Hanya orang-orang yang bisa mengoptimalkan kecerdasan akal dan giat bekerja yang akan memperoleh hasil buruan. Sedangkan kami wahai paduka Raja, belum berusaha dan tidak mampu keluar dari rasa kelaparan ini. Meski demikian, kami mempunyai gagasan dan ide yang cerdas untuk keluar dari himpitan kelaparan ini, dan bila paduka Raja berkenan, maka kami akan dengan sigap melaksanakannya.” Kata si Burung Gagak.

 

“Seperti apakah ide yang kalian punya?” Tanya sang Raja.

 

“Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Unta yang berada ditengah-tengah kita adalah hewan pemakan rumput. Dan selama ini kami tidak melihat adanya kontribusi dari dirinya untuk kehidupan kita. Ia sama sekali tidak membawa keuntungan apa pun bagi kita, terlebih paduka Raja. Kami melihat ada dan tidaknya si Unta tidak memiliki pengaruh bagi kita, kenapa tidak kita membunuhnya saja dan dagingnya bisa kita santap sebagai pengobat rasa lapar kita.” Kata si Burung Gagak.

 

Mendengar paparan tersebut, sang Raja sangat murka dan berkata: “aku melihat pendapatmu sangat kurang ajar. Betapa bodohnya dirimu wahai Gagak, yang begitu berani dan lancang melontarkan pendapat yang sama sekali tidak menaruh kasih sayang terhadap sesame, terlebih setia kawan. Sejujurnya kukatakan bahwa pendapatmu itu sangat melukai hatiku dan menjerumuskan hatiku. Tidakkah engkau tahu wahai Gagak, selama ini keselamatan dan kehidupan Unta itu sepenuhnya berada di dalam tanggung jawabku. Tidakkah kamu tahu wahai Gagak, sesungguhnya tidak ada pemberian yang lebih agung pahalanya daripada memberi rasa aman kepada mereka yang didera ketakutan dan membiarkan darah mengalir tanpa dosa. Aku telah menjamin keselamatan dan keamanannya, dan aku tidak akan sekali-kali akan menghianatinya dan menelan ludahku sendiri.”

 

Sang Gagak pun lalu berkata: “hamba tidak mengerti dengan maksud paduka Raja. Sebab yang hamba tahu, dalam himpitan hidup yang sulit, tidak jarang ada orang yang rela berkorban demi keluarganya, ada keluarga yang rela berkorban bagi masyarakatnya, dan sering pula kita mendengar ada penduduk negeri yang rela berkorban demi sang Raja. Kini paduka Raja berada dalam kesulitan hidup, maka hamba mengutarakan pendapat ini guna mengorbankan salah satu penduduk demi paduka Raja, hamba yakin, dengan mengorbankan dirinya tidak akan merugikan masyarakat dan paduka Raja. Sebab dalam hemat hamba, dengan mengorbankan Unta tidak ada yang harus dibayar dari pengorbanan ini, utamanya bagi baginda dan anak negeri ini. Kalau saja paduka Raja mempercayakan tugas ini kepada kami, sungguh kami telah siap dengan strategi kami untuk membuat si Unta dengan suka rela mengorbankan dirinya untukmu sang Raja. Sehingga anda bisa segera pulih dan kita segera keluar dari masalah kelaparan ini.”

 

Mendengar paparan si Gagak, sang Raja terdiam dan merenungkan gagasannya yang cerdik. Ketika melihat sang Raja tertarik dengan gagasannya si Burung Gagak pamit mendatangi kawan-kawannya, dan berkata: “aku telah membincangkan masalah Unta kepada sang Raja dan kulihat ia tertarik dengan gagasan kita, sebaiknya kita segera bergegas mengajak si Unta untuk menemui sang Raja. Kita harus pandai-pandai bersandiwara di hadapan sang Raja untuk menawarkan diri dan bersedia berkorban menjadi santapannya. Lalu yang lain menolak dengan sekaligus menawarkan diri dengan tawaran yang serupa dan jika tiba giliran si Unta menawarkan diri degan tawaran yang serupa untuk bersedia menjadi santapan sang Raja, maka kita harus sepakat menyetujuinya. Dengan begitu, kita semua akan selamat dan bisa membunuhnya dengan cara yang legal dan cerdas. Aku yakin sang Raja akan legawa dengan cara seperti ini.”

 

Ketika mereka telah bersepakat, mereka segera pergi menghadap sang Raja dengan mengajak si Unta. Di hadapan sang Raja dan disaksikan yang lainnya, si Burung Gagak berkata:”Wahai tuanku Raja, demi memulihkan kesehatan paduka, kami bersedia berkorban apa saja, bahkan nyawa sekalipun. Kami berkewajiban berkorban demi paduka Raja, meskipun harus kami bayar dengan kematian kami. Jika paduka sampai hancur dan binasa, maka kami semua lebih baik memilih mati bersama baginda. Sebab tanpa paduka Raja, berarti tidak ada kebaikan dalam hidup ini. Dengan disaksikan kawan-kawan semua,demi memulihkan kesehatan paduka Raja, hamba merelakan diri sebagai santapan paduka Raja.” Kata si Gagak.

 

Mendengar perkataan si Gagak, si Anjing Hutan segera berpura-pura menyanggah tawarannya seraya berkata: “kami rasa tidak ada untungnya bagi paduka Raja untuk memakan dirimu, sebab badanmu terlalu kecil, dan apalah yang bisa dimakan dari dirimu, kawan. Jika paduka Raja berkenan silahkan makan hamba saja, badanku lebih besar daripada si Burung Gagak. Hamba rela berkorban jiwa dan raga demi paduka Raja”

 

Namun tiba-tiba Burung Gagak dan Srigala berkata:”kau memang lebih gemuk, tapi kami yakin paduka Raja tidak akan merasa kenyang memakanmu.”

 

Srigala pun lalu berkata: “tubuhku lebih besar dari mereka berdua, makan saja diriku, aku rela berkorban demi memulihkan kesehatanmu wahai paduka Raja”

 

Mendengar tawaran Srigala, Anjing Hutan dan Burung Gagak pun mencegah seraya berkata: “tidakkah kamu tahu, para tabib pernah berkata, ‘barangsiapa hendak membunuh dirinya sendiri, hendaknya ia memakan daging Srigala terlebih dahulu.’ Kami tahu jiwa pengorbananmu, tapi kau malah bisa mencelakai sang Raja nantinya.”

 

Melihat perdebatan yang terjadi pada ketiga sababat karib tersebut guna mengorbankan dirinya di hadapan sang Raja, maka si Unta pun termakan sandiwara mereka dan tergerak menunjukkan loyalitasnya kepada sang Raja. Maka ia pun menawarkan diri sebagai santapan sang Raja dengan prediksi bahwa teman-temannya juga akan menolak menjadikan dirinya sebagai santapan sang Raja. Akhirnya ia pun berkata: “wahai paduka Raja, seperti yang baginda lihat, badanku sangatlah gemuk dan dalam tubuhku terdapat daging-daging yang segar dan sangat lezat untuk disantap. Dibandingkan dengan kawan-kawan yang lain, rasa daging hamba tentu akan lebih lezat, karena hamba merupakan hewan pemakan tumbuhan. Hamba rela menjadi santapan baginda Raja demi memulihkan kekuatan paduka Raja, selain masih banyak sisa daging hamba yang bisa dimanfaatkan hewan-hewan lain. Kukatakan dengan penuh kejujuran dan ketulusan bahwa aku bersedia berkorban demi sang Raja.” Berlawanan dengan yang diharapkan oleh si Unta, ternyata Anjing Hutan, Burung Gagak, dan Srigala malah membenarkan dan menyetujui usulannya. Kemudian dengan sigap mereka menerkam dan menghabisi si Unta hingga tewas. [Ibn Al Muqaffa]

 

Ditulis dalam cerita hikmah | Bertanda: , , , , | 2 Komentar »

Tikus dan Kucing

Ditulis oleh harieshandoyo di/pada Januari 30, 2008

  Tikus dan Kucing

 

Ada sebuah pohon yang sangat besar yang memiliki lubang sarang binatang didasarnya. Di lubang di dasar pohon tersebut hiduplah seekor Kucing hutan, dan disampingnya ada lubang yang didiami oleh seekor Tikus Besar. Setiap hari banyak pemburu yang melintasi di sekitar pohon besar itu untuk mencari burung dan hewan buruan lainnya.

 

Suatu hari ada seorang pemburu yang memasang jebakan dekat pohon tersebut dan sialnya, ketika si Kucing hendak keluar lubang untuk mencari makan ia terjebak dalam jaring yang dipasang si pemburu. Beberapa lama kemudian si Tikus Besar pun ingin mencari makan, saat keluar lubang ia mengamati keadaan sekitarnya dan berjalan dengan sangat hati-hati takut kalau ada si Kucing. Namun ketika menatap ke depan ia melihat si Kucing tengah terjebak dalam jaring si pemburu. Si Tikus merasa sangat senang sekali karena ia merasa telah aman dari ancaman si Kucing. Tetapi, belum jauh melangkah, si Tikus merasa sangat kaget sekali karena dari belakang ada seekor anak Anjing Hutan yang sedang mengintainya dan dari atas ada seekor Burung Hantu yang siap untuk mencengkramnya.

 

Pada saat itu, si Tikus dihadapkan pada pilihan hidup yang sangat sulit dan dihinggapi perasaan takut yang mencekam. Ia terus berfikir: “Jika aku melangkah ke belakang, niscahya anak Anjing Hutan itu akan menerjangku, sedangkan jika aku bergerak ke kiri atau ke kanan maka si Burung Hantu akan segera menyambarku, dan jika aku melangkah terus ke depan, maka si Kucing akan dengan sigap mencengkram diriku. Kini aneka bencana telah mengepung dan marabahaya sangat nyata berada di sekelilingku.

 

Aku tenggelam dalam lautan ujian yang tak bertepi. Sekarang aku harus mengoptimalkan akalku dan tidak boleh takut untuk menghadapinya serta harus optimis untuk bisa menghadapi semua cobaan ini, sebab orang yang berakal akan menghadapi segala permasalahan yang menghimpit denga cara yang cerdas dan tidak boleh kering dari ide-ide yang segar. Bukankah akal itu seperti lautan yang tak bertepi dan tidak terukur kedalamannya sehingga sebuah ujian kehidupan bila dihadapi dengan cara yang cerdas tidak akan membuat seseorang terjerembab pada kehancuran?

 

Orang-orang yang cerdas akan selalu berusaha menggapai cita-citanya dan tidak akan mundur sedikitpun dari rintangan yang menghadapinya, dengan demikian dalam himpitan kondisi yang seperti ini jalan satu-satunya yang bisa kulakukan adalah dengan berbaikan dengan si Kucing dan mengajak berdamai dan berbaikan kepadanya untuk sementara. Dengan begitu, setidaknya aku akan selamat dari incaran anak Anjing Hutan dan si Burung Hantu, apalagi sekarang Kucing itu sedang mengalami kesulitan. Tentunya dalam kondisi yang sama-sama sulit seperti ini, Kucing itu mau menerima tawaran damaiku. Aku akan membujuknya dan memberikan pemahaman dengan penuh kejujuran serta akan kuyakinkan di abahwa aku tidak akan menipunya dan akan kukatakan bahwa dalam posisi yang sama-sama sulit seperti ini jalan keluar yang terbaik adalah kebersamaan bertindak antara aku dan ia.”

 

Setelah berfikir, si Tikus segera mendekati si Kucing dan berkata: “Wahai saudaraku, bagaimana keadaanmu? Sepertinya engkau butuh bantuan.”

 

Mendengar itu si Kucing menjawab:”Seperti yang engkau lihat, aku dalam keadaan terperangkap. Aku yakin kamu merasa senang tentunya dengan melihat keadaanku yang menyedihkan ini bukan?”

 

“Aku turut bersedih atas musibah yang menimpamu,” jawab si Tikus. “Sebenarnya aku juga sedang dalam kesulitan, kau lihatlah dibelakangku dan di atas sana, ada anak Anjing Hutan dan Burung Hantu yang siap untuk memangsaku. Kita sama-sama dalam keadaan terjepit sekarang dan aku berharap kita bisa berkerjasama agar aku bisa keluar dari kesulitan ini sebagaimana dirimu juga bisa terbebas dari perangkap para pemburu. Aku bicara jujur kepadamu dan tidak menipumu.

 

Jika kamu bisa mengusir mereka berdua, maka aku akan menggigit tali perangkap itu untuk membebaskan dirimu. Dengan menolong satu sama lain kita akan selamat dari himpitan hidup yang menjerat layaknya sebuah kapal dan para penumpangnya  yang berada di tengah badai. Dengan menaiki kapal, maka para penumpang tersebut bisa selamat dan dengan adanya penumpang yang mengendalikan arah kapal, maka kapal tersebut bisa keluar dari hantaman badai dan tidak rusak ditelan badai”

                                             

Ketika si Kucing melihat kejujuran, ketulusan dan kesungguhan si sikus dalam mengutarakan maksudnya, ia berkata: “perkataanmu ada benarnya juga. Aku juga ingin selamat dari jeratan musibah ini dan jika kamu melakukan itu, tentu aku akan sangat berterima kasih kepadamu.”

 

“Aku akan mendekatimu dan kuputuskan jaring-jaring itu dengan gigiku, kecuali satu sebagai jaminan atas janjimu,” tawar si Tikus, “itupun setelah kau mengusir kedua hewan itu,” kata si Tikus yang langsung di sambut ceria oleh si Kucing.

 

Saat si Tikus menggigiti jaring yang mengurung si Kucing satu persatu, si Kucing pun langsung memasang tampang sangar dengan menunjukkan taringnya dan mengeluarkan suara yang sangat keras seraya memberikan tatapan mata yang sangat mengerikan kepada anak Anjing Hutan yang ada di belakang si Tikus dan kepada si Burung Hantu yang ada di atas. Melihat bahwa si Kucing bersikap demikian, anak Anjing Hutan yang masih tidak punya nyali dan Burung Hantu yang merasa kalah besar langsung mundur teratur dan segera menghilang dari pandangan si Tikus dan si Kucing hutan.

 

Melihat kedua seterunya sudah pergi, si Tikus pun memperlambat gigitan jaring yang menjebak si Kucing yang kemudian diketahui oleh si Kucing, si Kucing pun lantas menegurnya: “Aku melihatmu tidak lagi bersungguh-sungguh mengerjakan pekerjaan ini, kawan? apakah karena kamu sudah memperoleh keuntungan dengan kepergian kedua musuhmu, sehingga kamu berubah sikap dan mengulur-ulur hakku? Apa yang kau lakukan itu bukanlah perbuatan yang terpuji, kawan. Sebab sesungguhnya orang yang terpuji tidak akan pilih kasih dan memilah-milah kebaikan yang akan diperbuatnya. Ia tidak akan memberi harga kebaikannya dengan menghitung secara pragmatis keuntungan bagi dirinya dan orang yang terpuji tidak akan meminta jasa dari kebaikannya serta akan memenuhi janji dan komitmen yang telah dibuatnya.”

 

“Mulanya kupikir persahabatan kita tidak akan ternodai oleh kepentingan pragmatismu, ku kira kamu total dalam persahabatan ini dan tidak akan memberi ruang dalam hatimu untuk memunculkan benih-benih permusuhan yang dahulu pernah terjadi di antara kita dan menguburnya dengan laku kesetiaan, penghormatan dan saling menghargai. Kukira sudah tidak ada dendam di antara kita dan aku akan memperoleh pertolongan sebagaimana yang sudah menjadi hakku untuk ditolong baik sebagai sahabat ataupun orang yang telah menolongmu dari himpitan musuh. Orang mulia adalah orang yang selalu mesyukuri pemberian yang diterimanya. Ia tahu berterima kasih dan tidak memelihara kedengkian serta pikirannya tidak terbutakan oleh satu kesalahan dan kekhilafan di tengah kebaikan yang pernah diperbuatnya. Orang yang mulia akan menyikapi isu-isu yang menerpanya dengan kedalaman mata hati dan tidak menghadapinya dengan kedangkalan pikiran, sebab ada pepatah yang mengatakan: “Secepat-cepat pembalasan adalah pembalasan seorang musuh”. Barang siapa yang enggan menerima permintaan maaf dari orang lain dan tidak mau memahami kesalahan orang, sebenarnya ia bukanlah orang yang mulia,” kata si Kucing.

 

Si Tikus pun lalu menanggapi perkataan si Kucing dan berkata: “Sahabat itu terbagi atas dua model: sahabat yang tulus nan setia dan sahabat yang terpaksa. Keduanya berjalan pada kepentingan yang sama, yaitu keuntungan dan keselamatan dari malapetaka. Sahabat yang tulus nan setia akan total dan penuh ketulusan serta kepercayaan dalam menunjukkan persahabatan dengan segala dimensinya, sedangkan sahabat yang terpaksa, ia tidak akan pernah total dalam menunjukkan persahabatannya dan masih memiliki keragu-raguan dalam memaknai persahabatannya, dan orang yang berakal tidak akan berjudi dengan sikap plin-plannya dalam menyikapi dan memaknai persahabatan, meskipun harus diakui dengan jujur bahwa dasar dari interaksi seseorang dengan yang lain adalah kepentingan demi menggapai tujuan dan maksud yang diharapkannya. Aku sudah menunaikan kesetiaan kepadamu dan memenuhi janjiku, meskipun kuakui bahwa aku masih merasa takut kepadamu sehingga bersikap hati-hati terhadapmu. Sebuah ketakutan yang lahir dari rasa kekhawatiran akan adanya keinginan dirimu untuk menguasai diriku sebab adanya kelebihan dan kekuatan yang kau miliki. Juga karena ketidakberdayaan diriku terhadapmu. Bukankah setiap pekerjaan selalu terkait dengan keadaan? Bisa jadi pekerjaan hari ini tidak akan layak dikerjakan pada situasi yang lain, dan keadaan pun terkadang punya peran yang sangat penting dalam menuntun seseorang yang mengambil keputusan. Kalau aku sengaja menyisakan satu tali dari jaring yang menjerat dirimu, semata-mata kupakai sebagai jaminan bagi diriku untuk mengetahui apakah dirimu benar-benar sibuk memikirkan diriku?”

 

Setelah berkata demikian, mereka melihat kedatangan para pemburu dan dengan segera si Tikus pun memutuskan tali terakhir yang menjerat si Kucing, sehingga ia bisa terbebas dari jaring yang menjeratnya dan mereka semua langsung berlari menuju ke lubang masing masing. Sementara itu para pemburu akhirnya kembali pulang dengan tangan hampa dan merasa sangat kecewa karena buruan yang sudah ada di hadapan mata bisa terlepas, terlebih ketika mereka mendapati bahwa jaring mereka rusak parah akibat gigitan Tikus.

 

Keesokan harinya si Tikus keluar dari lubangnya dan terlihat enggan untuk bertemu atau mendekati si Kucing. Melihat keganjilan itu si Kucing berteriak memanggilnya seraya berkata: “Wahai kawan yang selalu memberikan nasehat yang agung, mengapa kau sekarang menjauhi diriku? Sejatinya, aku ingin memberimu hadiah atas budi kebaikan yang telah kamu lakukan kepadaku. Kemarilah kawan! Jangan kauputus persahabatan yang telah terjalin di antara kita. Sesungguhnya barang siapa yang telah menjalin persahabatan lalu memutuskannya, maka ia tidak akan memperoleh hasilnya dan tidak akan merengkuh kenikmatan bersahabat, bahkan ia akan terjebak pada keputusasaan diri. Aku tidak akan menafikan dan melupakan kebaikan yang telah kau lakukan terhadap diriku. Kau berhak menerima hadiah dariku, keluargaku, dan komunitas para Kucing. Kemarilah, mendekat padaku, kenapa kamu harus takut kepadaku kawan? Ketahuilah aku sungguh tulus kepadamu dan jujur ingin membalas kebaikan budimu dan tidak pernah berencana menipu dan mengkhianatimu.”

 

Mendengar itu si Tikus menjawab lantang: “Banyak persahabatan yang kelihatannya sangat tulus namun batinnya amat busuk dan banyak pula persahabatan yang tampilan luarnya tampak setia namun geliat batinnya penuh gejolak permusuhan, padahal persahabatan yang memendam gejolak permusuhan lebih berbahaya dari pada musuh itu sendiri. Barang siapa yang tidak berhati-hati, maka akan bernasib seperti seseorang yang menduduki taring gajah yang sedang tertidur yang kala si gajah terbangun dan mendapati ada orang yang sedang duduk di atas taringnya, ia pun langsung melemparnya dan menginjaknya hingga tewas.”

 

Si Tikus lalu berkata lagi: “Sejatinya esensi persahabatan adalah rasa saling mengasihi, saling menghormati, saling percaya, dan saling menolong satu sama lain. Sedangkan seorang musuh, sejatinya adalah yang selalu membawa rasa tidak aman pada oran lain. Seorang yang cerdas bila berharap keselamatan dan keuntungan dari musuhnya ia akan berupaya menampakkan keakraban bersahabat kepada musuhnya, jika ia takut dengan ancaman dan bahaya dari musuhnya, maka ia akan menampakkan perlawanan. Bukankah kamu pun tahu bagaimana solidaritas hewan saat mereka diserang musuh, namun jika musuh itu telah bisa mereka kalahkan, mereka pun bercerai berai lagi. Bisa jadi seorang sahabat terpaksa memutuskan persahabatan dengan karibnya, namun ia tidak takut aibnya terbongkar, sebab dasar persahabatannya adalah berkarib dan berkawan. Namun jika dasar persahabatannya adalah permusuhan, bila terpaksa dirinya harus memutuskan hubungan itu, maka sang kawan akan tidak segan-segan mengobral aib kawannya yang lain.”

 

“Demikian pula, jalinan persahabatan yang berdasarkan kepentingan, sebab jika kepentingan pragmatis yang diharapkannya sudah terpenuhi, maka pupus pula persahabatan itu. karena itu, tidak jarang persahabatan yang semodel ini akan berubah menjadi permusuhan, sebab dasarnya memang bukan persahabatan melainkan kepentingan. Seperti air yang dipanaskan dengan api, kalau apinya disingkirkan, maka air tersebut akan menjadi dingin kembali. Tidak ada musuhku yang lebih berbahaya daripada kamu, wahai Kucing! Kalau kamu mau jujur kawan, keadaanlah yang memaksa kita untuk berdamai, karen waktu itu kita sama-sama dalam kondisi yang terjepit. Kini keadaan itu sudah berlalu, dan aku takut, dengan telah berlalunya keadaan itu, kamu akan kembali ke kondisi dan watakmu yang semula, yaitu memusuhiku dan berusaha memangsa diriku.”

 

“Menurutku, tidak adanya baiknya bagi si lemah seperti diriku mendekati musuh yang kuat sepertimu, juga orang hina sepertiku tidak pantas mendekati musuh yang mulia sepertimu. Yang kutahu selama ini kamu selalu berusaha memangsa diriku, dan itulah keperluanmu selama ini. Aku tidak tahu maksudmu yang lain dan aku pun tidak menaruh kepercayaan atas maksudmu yang lain. Satu yang kupahami bahwa orang yang lemah sepertiku harus selalu waspada dan hati-hati kepada musuh yang kuat seperti dirimu. Sebab yang demikian itu akan lebih menyelamatkan diriku. Sedangkan orang yang kuat, bila punya keinginan pada si lemah, ia akan pura-pura akrab dan sok bersahabat. Demikian pula dengan orang lemah yang cerdas, yang bila punya hasrat dan keinginan, akan selalu berbaik-baik diri kepada musuhnya. Ia akan selalu berusaha memperbaiki diri dan pura-pura akrab dengan musuhnya, kemudian dengan perlahan-lahan tapi pasti ia menghindari musuhnya dan lari bila memang ada jalan untuk melarikan diri, dan itulah aku,” kata si Tikus.

 

“Ketahuilah kawan, keakraban yang cepat bukanlah bukti dari ketertarikan seseorang kepada kerabatnya. Seseorang yang cerdik akan selalu berhati-hati akan sikap sok akrab musuhnya, karena keakraban yang lahir dari musuh adalah selubung dan jebakan. Orang yang berakal sempurna akan selalu waspada dan tidak akan percaya begitu saja kepada musuhnya serta tidak akan merasa aman akan kedekatannya akan musuhnya. Orang yang berakal sempurna seharusnya menjauhi musuhnya jika ia memang mampu. Aku menaruh kasih dan sayang kepadamu dari kejauhan dan aku berharap untukmu keselamatan dan kesehatan untuk dirimu. Sesuatu yang dulu tidak pernah aku harapkan untukmu. Kamu tidak perlu merepotkan diri untuk membalas kebaikanku, karena aku tidak merasa berhak untuk menerima hadiah darimu. Dengan itu, aku melihat tidak ada alasan untuk berkumpul dalam jalinan kebersamaan dirimu, sebab bagiku cukup sampai di sini dan kuucapkan selamat tinggal untukmu,” kata si Tikus seraya masuk kembali ke lubangnya. [Ibn Al Muqaffa]

 

  

 

 

                                             

Ditulis dalam cerita hikmah | Bertanda: , , , , , , | 1 Komentar »