Tikus dan Kucing
Ada sebuah pohon yang sangat besar yang memiliki lubang sarang binatang didasarnya. Di lubang di dasar pohon tersebut hiduplah seekor Kucing hutan, dan disampingnya ada lubang yang didiami oleh seekor Tikus Besar. Setiap hari banyak pemburu yang melintasi di sekitar pohon besar itu untuk mencari burung dan hewan buruan lainnya.
Suatu hari ada seorang pemburu yang memasang jebakan dekat pohon tersebut dan sialnya, ketika si Kucing hendak keluar lubang untuk mencari makan ia terjebak dalam jaring yang dipasang si pemburu. Beberapa lama kemudian si Tikus Besar pun ingin mencari makan, saat keluar lubang ia mengamati keadaan sekitarnya dan berjalan dengan sangat hati-hati takut kalau ada si Kucing. Namun ketika menatap ke depan ia melihat si Kucing tengah terjebak dalam jaring si pemburu. Si Tikus merasa sangat senang sekali karena ia merasa telah aman dari ancaman si Kucing. Tetapi, belum jauh melangkah, si Tikus merasa sangat kaget sekali karena dari belakang ada seekor anak Anjing Hutan yang sedang mengintainya dan dari atas ada seekor Burung Hantu yang siap untuk mencengkramnya.
Pada saat itu, si Tikus dihadapkan pada pilihan hidup yang sangat sulit dan dihinggapi perasaan takut yang mencekam. Ia terus berfikir: “Jika aku melangkah ke belakang, niscahya anak Anjing Hutan itu akan menerjangku, sedangkan jika aku bergerak ke kiri atau ke kanan maka si Burung Hantu akan segera menyambarku, dan jika aku melangkah terus ke depan, maka si Kucing akan dengan sigap mencengkram diriku. Kini aneka bencana telah mengepung dan marabahaya sangat nyata berada di sekelilingku.
Aku tenggelam dalam lautan ujian yang tak bertepi. Sekarang aku harus mengoptimalkan akalku dan tidak boleh takut untuk menghadapinya serta harus optimis untuk bisa menghadapi semua cobaan ini, sebab orang yang berakal akan menghadapi segala permasalahan yang menghimpit denga cara yang cerdas dan tidak boleh kering dari ide-ide yang segar. Bukankah akal itu seperti lautan yang tak bertepi dan tidak terukur kedalamannya sehingga sebuah ujian kehidupan bila dihadapi dengan cara yang cerdas tidak akan membuat seseorang terjerembab pada kehancuran?
Orang-orang yang cerdas akan selalu berusaha menggapai cita-citanya dan tidak akan mundur sedikitpun dari rintangan yang menghadapinya, dengan demikian dalam himpitan kondisi yang seperti ini jalan satu-satunya yang bisa kulakukan adalah dengan berbaikan dengan si Kucing dan mengajak berdamai dan berbaikan kepadanya untuk sementara. Dengan begitu, setidaknya aku akan selamat dari incaran anak Anjing Hutan dan si Burung Hantu, apalagi sekarang Kucing itu sedang mengalami kesulitan. Tentunya dalam kondisi yang sama-sama sulit seperti ini, Kucing itu mau menerima tawaran damaiku. Aku akan membujuknya dan memberikan pemahaman dengan penuh kejujuran serta akan kuyakinkan di abahwa aku tidak akan menipunya dan akan kukatakan bahwa dalam posisi yang sama-sama sulit seperti ini jalan keluar yang terbaik adalah kebersamaan bertindak antara aku dan ia.”
Setelah berfikir, si Tikus segera mendekati si Kucing dan berkata: “Wahai saudaraku, bagaimana keadaanmu? Sepertinya engkau butuh bantuan.”
Mendengar itu si Kucing menjawab:”Seperti yang engkau lihat, aku dalam keadaan terperangkap. Aku yakin kamu merasa senang tentunya dengan melihat keadaanku yang menyedihkan ini bukan?”
“Aku turut bersedih atas musibah yang menimpamu,” jawab si Tikus. “Sebenarnya aku juga sedang dalam kesulitan, kau lihatlah dibelakangku dan di atas sana, ada anak Anjing Hutan dan Burung Hantu yang siap untuk memangsaku. Kita sama-sama dalam keadaan terjepit sekarang dan aku berharap kita bisa berkerjasama agar aku bisa keluar dari kesulitan ini sebagaimana dirimu juga bisa terbebas dari perangkap para pemburu. Aku bicara jujur kepadamu dan tidak menipumu.
Jika kamu bisa mengusir mereka berdua, maka aku akan menggigit tali perangkap itu untuk membebaskan dirimu. Dengan menolong satu sama lain kita akan selamat dari himpitan hidup yang menjerat layaknya sebuah kapal dan para penumpangnya yang berada di tengah badai. Dengan menaiki kapal, maka para penumpang tersebut bisa selamat dan dengan adanya penumpang yang mengendalikan arah kapal, maka kapal tersebut bisa keluar dari hantaman badai dan tidak rusak ditelan badai”
Ketika si Kucing melihat kejujuran, ketulusan dan kesungguhan si sikus dalam mengutarakan maksudnya, ia berkata: “perkataanmu ada benarnya juga. Aku juga ingin selamat dari jeratan musibah ini dan jika kamu melakukan itu, tentu aku akan sangat berterima kasih kepadamu.”
“Aku akan mendekatimu dan kuputuskan jaring-jaring itu dengan gigiku, kecuali satu sebagai jaminan atas janjimu,” tawar si Tikus, “itupun setelah kau mengusir kedua hewan itu,” kata si Tikus yang langsung di sambut ceria oleh si Kucing.
Saat si Tikus menggigiti jaring yang mengurung si Kucing satu persatu, si Kucing pun langsung memasang tampang sangar dengan menunjukkan taringnya dan mengeluarkan suara yang sangat keras seraya memberikan tatapan mata yang sangat mengerikan kepada anak Anjing Hutan yang ada di belakang si Tikus dan kepada si Burung Hantu yang ada di atas. Melihat bahwa si Kucing bersikap demikian, anak Anjing Hutan yang masih tidak punya nyali dan Burung Hantu yang merasa kalah besar langsung mundur teratur dan segera menghilang dari pandangan si Tikus dan si Kucing hutan.
Melihat kedua seterunya sudah pergi, si Tikus pun memperlambat gigitan jaring yang menjebak si Kucing yang kemudian diketahui oleh si Kucing, si Kucing pun lantas menegurnya: “Aku melihatmu tidak lagi bersungguh-sungguh mengerjakan pekerjaan ini, kawan? apakah karena kamu sudah memperoleh keuntungan dengan kepergian kedua musuhmu, sehingga kamu berubah sikap dan mengulur-ulur hakku? Apa yang kau lakukan itu bukanlah perbuatan yang terpuji, kawan. Sebab sesungguhnya orang yang terpuji tidak akan pilih kasih dan memilah-milah kebaikan yang akan diperbuatnya. Ia tidak akan memberi harga kebaikannya dengan menghitung secara pragmatis keuntungan bagi dirinya dan orang yang terpuji tidak akan meminta jasa dari kebaikannya serta akan memenuhi janji dan komitmen yang telah dibuatnya.”
“Mulanya kupikir persahabatan kita tidak akan ternodai oleh kepentingan pragmatismu, ku kira kamu total dalam persahabatan ini dan tidak akan memberi ruang dalam hatimu untuk memunculkan benih-benih permusuhan yang dahulu pernah terjadi di antara kita dan menguburnya dengan laku kesetiaan, penghormatan dan saling menghargai. Kukira sudah tidak ada dendam di antara kita dan aku akan memperoleh pertolongan sebagaimana yang sudah menjadi hakku untuk ditolong baik sebagai sahabat ataupun orang yang telah menolongmu dari himpitan musuh. Orang mulia adalah orang yang selalu mesyukuri pemberian yang diterimanya. Ia tahu berterima kasih dan tidak memelihara kedengkian serta pikirannya tidak terbutakan oleh satu kesalahan dan kekhilafan di tengah kebaikan yang pernah diperbuatnya. Orang yang mulia akan menyikapi isu-isu yang menerpanya dengan kedalaman mata hati dan tidak menghadapinya dengan kedangkalan pikiran, sebab ada pepatah yang mengatakan: “Secepat-cepat pembalasan adalah pembalasan seorang musuh”. Barang siapa yang enggan menerima permintaan maaf dari orang lain dan tidak mau memahami kesalahan orang, sebenarnya ia bukanlah orang yang mulia,” kata si Kucing.
Si Tikus pun lalu menanggapi perkataan si Kucing dan berkata: “Sahabat itu terbagi atas dua model: sahabat yang tulus nan setia dan sahabat yang terpaksa. Keduanya berjalan pada kepentingan yang sama, yaitu keuntungan dan keselamatan dari malapetaka. Sahabat yang tulus nan setia akan total dan penuh ketulusan serta kepercayaan dalam menunjukkan persahabatan dengan segala dimensinya, sedangkan sahabat yang terpaksa, ia tidak akan pernah total dalam menunjukkan persahabatannya dan masih memiliki keragu-raguan dalam memaknai persahabatannya, dan orang yang berakal tidak akan berjudi dengan sikap plin-plannya dalam menyikapi dan memaknai persahabatan, meskipun harus diakui dengan jujur bahwa dasar dari interaksi seseorang dengan yang lain adalah kepentingan demi menggapai tujuan dan maksud yang diharapkannya. Aku sudah menunaikan kesetiaan kepadamu dan memenuhi janjiku, meskipun kuakui bahwa aku masih merasa takut kepadamu sehingga bersikap hati-hati terhadapmu. Sebuah ketakutan yang lahir dari rasa kekhawatiran akan adanya keinginan dirimu untuk menguasai diriku sebab adanya kelebihan dan kekuatan yang kau miliki. Juga karena ketidakberdayaan diriku terhadapmu. Bukankah setiap pekerjaan selalu terkait dengan keadaan? Bisa jadi pekerjaan hari ini tidak akan layak dikerjakan pada situasi yang lain, dan keadaan pun terkadang punya peran yang sangat penting dalam menuntun seseorang yang mengambil keputusan. Kalau aku sengaja menyisakan satu tali dari jaring yang menjerat dirimu, semata-mata kupakai sebagai jaminan bagi diriku untuk mengetahui apakah dirimu benar-benar sibuk memikirkan diriku?”
Setelah berkata demikian, mereka melihat kedatangan para pemburu dan dengan segera si Tikus pun memutuskan tali terakhir yang menjerat si Kucing, sehingga ia bisa terbebas dari jaring yang menjeratnya dan mereka semua langsung berlari menuju ke lubang masing masing. Sementara itu para pemburu akhirnya kembali pulang dengan tangan hampa dan merasa sangat kecewa karena buruan yang sudah ada di hadapan mata bisa terlepas, terlebih ketika mereka mendapati bahwa jaring mereka rusak parah akibat gigitan Tikus.
Keesokan harinya si Tikus keluar dari lubangnya dan terlihat enggan untuk bertemu atau mendekati si Kucing. Melihat keganjilan itu si Kucing berteriak memanggilnya seraya berkata: “Wahai kawan yang selalu memberikan nasehat yang agung, mengapa kau sekarang menjauhi diriku? Sejatinya, aku ingin memberimu hadiah atas budi kebaikan yang telah kamu lakukan kepadaku. Kemarilah kawan! Jangan kauputus persahabatan yang telah terjalin di antara kita. Sesungguhnya barang siapa yang telah menjalin persahabatan lalu memutuskannya, maka ia tidak akan memperoleh hasilnya dan tidak akan merengkuh kenikmatan bersahabat, bahkan ia akan terjebak pada keputusasaan diri. Aku tidak akan menafikan dan melupakan kebaikan yang telah kau lakukan terhadap diriku. Kau berhak menerima hadiah dariku, keluargaku, dan komunitas para Kucing. Kemarilah, mendekat padaku, kenapa kamu harus takut kepadaku kawan? Ketahuilah aku sungguh tulus kepadamu dan jujur ingin membalas kebaikan budimu dan tidak pernah berencana menipu dan mengkhianatimu.”
Mendengar itu si Tikus menjawab lantang: “Banyak persahabatan yang kelihatannya sangat tulus namun batinnya amat busuk dan banyak pula persahabatan yang tampilan luarnya tampak setia namun geliat batinnya penuh gejolak permusuhan, padahal persahabatan yang memendam gejolak permusuhan lebih berbahaya dari pada musuh itu sendiri. Barang siapa yang tidak berhati-hati, maka akan bernasib seperti seseorang yang menduduki taring gajah yang sedang tertidur yang kala si gajah terbangun dan mendapati ada orang yang sedang duduk di atas taringnya, ia pun langsung melemparnya dan menginjaknya hingga tewas.”
Si Tikus lalu berkata lagi: “Sejatinya esensi persahabatan adalah rasa saling mengasihi, saling menghormati, saling percaya, dan saling menolong satu sama lain. Sedangkan seorang musuh, sejatinya adalah yang selalu membawa rasa tidak aman pada oran lain. Seorang yang cerdas bila berharap keselamatan dan keuntungan dari musuhnya ia akan berupaya menampakkan keakraban bersahabat kepada musuhnya, jika ia takut dengan ancaman dan bahaya dari musuhnya, maka ia akan menampakkan perlawanan. Bukankah kamu pun tahu bagaimana solidaritas hewan saat mereka diserang musuh, namun jika musuh itu telah bisa mereka kalahkan, mereka pun bercerai berai lagi. Bisa jadi seorang sahabat terpaksa memutuskan persahabatan dengan karibnya, namun ia tidak takut aibnya terbongkar, sebab dasar persahabatannya adalah berkarib dan berkawan. Namun jika dasar persahabatannya adalah permusuhan, bila terpaksa dirinya harus memutuskan hubungan itu, maka sang kawan akan tidak segan-segan mengobral aib kawannya yang lain.”
“Demikian pula, jalinan persahabatan yang berdasarkan kepentingan, sebab jika kepentingan pragmatis yang diharapkannya sudah terpenuhi, maka pupus pula persahabatan itu. karena itu, tidak jarang persahabatan yang semodel ini akan berubah menjadi permusuhan, sebab dasarnya memang bukan persahabatan melainkan kepentingan. Seperti air yang dipanaskan dengan api, kalau apinya disingkirkan, maka air tersebut akan menjadi dingin kembali. Tidak ada musuhku yang lebih berbahaya daripada kamu, wahai Kucing! Kalau kamu mau jujur kawan, keadaanlah yang memaksa kita untuk berdamai, karen waktu itu kita sama-sama dalam kondisi yang terjepit. Kini keadaan itu sudah berlalu, dan aku takut, dengan telah berlalunya keadaan itu, kamu akan kembali ke kondisi dan watakmu yang semula, yaitu memusuhiku dan berusaha memangsa diriku.”
“Menurutku, tidak adanya baiknya bagi si lemah seperti diriku mendekati musuh yang kuat sepertimu, juga orang hina sepertiku tidak pantas mendekati musuh yang mulia sepertimu. Yang kutahu selama ini kamu selalu berusaha memangsa diriku, dan itulah keperluanmu selama ini. Aku tidak tahu maksudmu yang lain dan aku pun tidak menaruh kepercayaan atas maksudmu yang lain. Satu yang kupahami bahwa orang yang lemah sepertiku harus selalu waspada dan hati-hati kepada musuh yang kuat seperti dirimu. Sebab yang demikian itu akan lebih menyelamatkan diriku. Sedangkan orang yang kuat, bila punya keinginan pada si lemah, ia akan pura-pura akrab dan sok bersahabat. Demikian pula dengan orang lemah yang cerdas, yang bila punya hasrat dan keinginan, akan selalu berbaik-baik diri kepada musuhnya. Ia akan selalu berusaha memperbaiki diri dan pura-pura akrab dengan musuhnya, kemudian dengan perlahan-lahan tapi pasti ia menghindari musuhnya dan lari bila memang ada jalan untuk melarikan diri, dan itulah aku,” kata si Tikus.
“Ketahuilah kawan, keakraban yang cepat bukanlah bukti dari ketertarikan seseorang kepada kerabatnya. Seseorang yang cerdik akan selalu berhati-hati akan sikap sok akrab musuhnya, karena keakraban yang lahir dari musuh adalah selubung dan jebakan. Orang yang berakal sempurna akan selalu waspada dan tidak akan percaya begitu saja kepada musuhnya serta tidak akan merasa aman akan kedekatannya akan musuhnya. Orang yang berakal sempurna seharusnya menjauhi musuhnya jika ia memang mampu. Aku menaruh kasih dan sayang kepadamu dari kejauhan dan aku berharap untukmu keselamatan dan kesehatan untuk dirimu. Sesuatu yang dulu tidak pernah aku harapkan untukmu. Kamu tidak perlu merepotkan diri untuk membalas kebaikanku, karena aku tidak merasa berhak untuk menerima hadiah darimu. Dengan itu, aku melihat tidak ada alasan untuk berkumpul dalam jalinan kebersamaan dirimu, sebab bagiku cukup sampai di sini dan kuucapkan selamat tinggal untukmu,” kata si Tikus seraya masuk kembali ke lubangnya. [Ibn Al Muqaffa]