Gudang Hikmah Ku

Setetes Hikmah yang Ku Peroleh dari ALLAH Sang Pemilik Ilmu

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘nasihat’

Burung Kutilang dan Gajah

Ditulis oleh harieshandoyo di/pada Januari 29, 2008

  Burung Kutilang dan Gajah

Ada seekor burung Kutilang yang menjadikan semak belukar sebagai tempat penyimpanan telur-telurnya untuk ditetaskan, dan tempat tersebut secara kebetulan kini ternyata sering dilalui oleh Gajah untuk mengambil air minum yang berada di sumber mata air yang dekat dengan semak belukar tersebut, karena di bulan kemarau ini beberapa sumber air di hutan ini telah mongering dan hanya beberapa yang masih tersisa diantaranya adalah mata air dekat sarang si Kutilang. Pada suatu hari, ketika si Gajah hendak minum dan melintasi semak belukar tersebut, entahlah sengaja atau tidak, ia menginjak sarang burung Kutilang, sehingga semua telurnya menjadi hancur.

Mengetahui semua telurnya telah hancur karena si Gajah, si burung Kutilang menjadi sedih dan marah dan ingin meminta pertanggungjawaban dari si Gajah. Lantas ia pun langsung melabrak si Gajah: “Wahai, punggawa hutan! Kenapa kamu injak dan hancurkan semua telurku? Padahal kita hidup bertetangga sudah sejak lama. Kenapa kamu tega dan sekeji itu? Apakah kamu melakukan itu karena kami adalah mahluk yang kecil dan lemah? Karena kami terlahir dari komunitas hewani yang kecil? Apakah kamu melakukan itu karena kamu merasa bangga dan sombong, sebab memiliki tubuh yang besar dan kuat?”

Mendengar labrakan si burung Kutilang, si Gajah menjawab dengan seenaknya: “itu bukan salahku, tapi itu adalah salahmu karena membuat sarang di sembarang tempat. Kamu tahu tempat ini sekarang sering aku lalui, kenapa kamu tidak pindahkan sarangmu ke tempat lain?”

Dengan perasaan dongkol, burung Kutilang pergi dan mengadukan permasalahannya kepada komunitasnya. Kepada mereka ia berkata: “Wahai para burung, apakah kalian tega melihat musibah yang menimpaku? Telurku telah hancur dan harapanku untuk memiliki anak menjadi punah karena ulah si Gajah yang sombong dan tiran itu. Tolonglah aku wahai kawan!”

Usai itu burung Kutilang berkata pada burung Gagak dan burung Bangau: “Aku memiliki rencana yang bagus untuk memberi pelajaran kepada si Gajah yang sombong itu. Sekarang terbanglah kalian! Temukan Gajah itu lalu patuklah matanya sehingga ia buta. Jika ia sudah buta maka aku akan memulai strategiku untuk menghancurkannya.”

Mendengar permintaan temannya, kedua burung itupun lalu terbang mencari si Gajah, dan mereka berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik sehingga mata si Gajah menjadi buta. Setelah yakin kalau si Gajah telah buta, burung Kutilang lalu menemui sahabatnya dari komunitas katak dan mengeluhkan permasalahan yang menimpanya. Para katakpun menaruh simpati setelah mendengar  cerita itu dan berikrar untuk membentu burung Kutilang. Burung Kutilang itupun lalu berkata: “Kuharap kalian mau mengikutiku ke tepi jurang. Di tepi jurang itu, berteriaklah sekeras mungkin agar si Gajah bisa mendengar suara kalian. Sebab jika mendengar suara kalian, tentu ia akan mengira bahwa di sini merupakan kolam air tempat yang ada airnya. Kalau si Gajah mendatangi kalian, ia akan terjebak dan jatuh ke dalam jurang ini, sebab matanya tidak bisa melihat!”

Saat si Gajah datang untuk mencari air minum, para Katak mulai menjalankan scenario yang telah diatur oleh Burung Kutilang. Semua strategi itu mereka lakukan dengan sempurna dan sang Gajah pun akhirnya terperosok dan jatuh ke dalam jurang.  Kutilang pun merasa senang karena dendamnya sudah terbalaskan. Kemudian dengan lantang sambil terbang ke dalam jurang ia berkata: “Wahai binatang yang sombong dan angkuh dengan kebesaran tubuhnya, inilah balasan atas penghinaanmu atas diriku dan komunitasku yang bertubuh kecil dan lemah. Sadarkah wahai Gajah , besar tubuhmu yang tidak dibarengi oleh kecerdasan akal telah terkalahkan oleh kecil tubuhku dengan kecerdasan akal. Kini rasakan kematianmu dan selamat jalan menuju kehancuranmu. [Ibn Al Muqaffa]

Ditulis dalam cerita hikmah | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Burung Baik yang Malang

Ditulis oleh harieshandoyo di/pada Januari 28, 2008

Burung Baik yang Malang 

Syahdan, ada suatu komunitas kera yang tinggal di hutan yang berada di puncak gunung. Pada suatu malam, datang badai gunung dengan hembusan angin yang sangat kencang dan sangat dingin. Dalam kedinginan yang mencekam di tengah gelapnya malam, kera-kera itu hendak mencari api untuk menghangatkan diri mereka. Setelah mengelilingi semua pojok gunung, mereka tetap tidak mendapatkan api. tiba-tiba mereka melihat burung kenari yang terbang di angkasa seakan-akan menjelma bak bara api. Melihat itu, kera-kera mengira kalau burung kenari itu adalah api dan tanpa berfikir panjang mereka mengumpulkan kayu bakar untuk membuat perapian agar bisa menghangatkan diri dari gempuran cuaca dingin yang rasanya hingga membuat tulang mereka membeku. Sementara itu didekat komunitas kera, tinggallah seekor burung yang sangat terheran-heran melihat kelakuan para kera yang menganggap burung kenari sebagai pijaran api.

Si burung mencoba mengingatkan kera-kera itu serasa berkata: ”Wahai komunitas kera, mengapa kalian menyusahkan diri, yang kalian lihat bukanlah api, itu adalah burung kenari.” Namun para kera tetap tidak bergeming mendengar nasehat sang burung. Akhirnya, si burung mencoba mendekati mereka dan berusaha meyakinkan bahwa apa yang mereka anggap api tidak lain adalah burung kenari dan bukan api.

Kala itu, ada salah satu hewan yang merupakan anggota komunitas hutan itu juga berusaha mengingatkan sang burung agar tidak terlalu bersikeras meluruskan sesuatu yang memang tidak bisa diluruskan. Hewan itu berkata:”tidakkah kamu ingat, wahai burung. Sebongkah batu cadas yang keras tidak akan bisa dibelah dengan pisau setajam apapun. Dan sebuah anak panah pun tidak akan melesat jauh kalau tidak ada yang memasangkannya pada busurnya. Oleh karena itu janganlah kau paksakan dirimu untuk bersusah payah mengingatkan mereka, jangan paksakan dirimu memberikan nasehat kepada orang yang tidak bisa menerima nasehat, karena hal itu hanya akan menghambur-hamburkan tenaga dan waktumu saja.”

Hewan itu bermaksud mengingatkan kepada sang burung bahwa usahanya meluruskan keyakinan para kera yang menganggap burung kenari adalah api adalah pekerjaan yang sia-sia pula. Sebab para kera itu sudah sampai puncak keyakinannya, dan untuk merubah keyakinan mereka adalah hal yang mendekati mustahil.

Namun meski sudah dinasehati, sang burung tetap saja berusaha memahamkan komunitas kera bahwa apa yang mereka sangka sebagai api tiada lain merupakan burung kenari. Dan ketika sang burung makin dekat ke arah komunitas kera, tiba-tiba mereka segera menghabisinya karena dianggap mengganggu mereka dan terlalu bermulut besar. Usaha dan niat baik sang burung yang hendak menasehati dan memberi saran kepada kera-kera itu kini malah berbalas dengan kematian dirinya. [Ibn Al Muqaffa] 

Ditulis dalam cerita hikmah | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »