Burung Kutilang dan Gajah
Ada seekor burung Kutilang yang menjadikan semak belukar sebagai tempat penyimpanan telur-telurnya untuk ditetaskan, dan tempat tersebut secara kebetulan kini ternyata sering dilalui oleh Gajah untuk mengambil air minum yang berada di sumber mata air yang dekat dengan semak belukar tersebut, karena di bulan kemarau ini beberapa sumber air di hutan ini telah mongering dan hanya beberapa yang masih tersisa diantaranya adalah mata air dekat sarang si Kutilang. Pada suatu hari, ketika si Gajah hendak minum dan melintasi semak belukar tersebut, entahlah sengaja atau tidak, ia menginjak sarang burung Kutilang, sehingga semua telurnya menjadi hancur.
Mengetahui semua telurnya telah hancur karena si Gajah, si burung Kutilang menjadi sedih dan marah dan ingin meminta pertanggungjawaban dari si Gajah. Lantas ia pun langsung melabrak si Gajah: “Wahai, punggawa hutan! Kenapa kamu injak dan hancurkan semua telurku? Padahal kita hidup bertetangga sudah sejak lama. Kenapa kamu tega dan sekeji itu? Apakah kamu melakukan itu karena kami adalah mahluk yang kecil dan lemah? Karena kami terlahir dari komunitas hewani yang kecil? Apakah kamu melakukan itu karena kamu merasa bangga dan sombong, sebab memiliki tubuh yang besar dan kuat?”
Mendengar labrakan si burung Kutilang, si Gajah menjawab dengan seenaknya: “itu bukan salahku, tapi itu adalah salahmu karena membuat sarang di sembarang tempat. Kamu tahu tempat ini sekarang sering aku lalui, kenapa kamu tidak pindahkan sarangmu ke tempat lain?”
Dengan perasaan dongkol, burung Kutilang pergi dan mengadukan permasalahannya kepada komunitasnya. Kepada mereka ia berkata: “Wahai para burung, apakah kalian tega melihat musibah yang menimpaku? Telurku telah hancur dan harapanku untuk memiliki anak menjadi punah karena ulah si Gajah yang sombong dan tiran itu. Tolonglah aku wahai kawan!”
Usai itu burung Kutilang berkata pada burung Gagak dan burung Bangau: “Aku memiliki rencana yang bagus untuk memberi pelajaran kepada si Gajah yang sombong itu. Sekarang terbanglah kalian! Temukan Gajah itu lalu patuklah matanya sehingga ia buta. Jika ia sudah buta maka aku akan memulai strategiku untuk menghancurkannya.”
Mendengar permintaan temannya, kedua burung itupun lalu terbang mencari si Gajah, dan mereka berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik sehingga mata si Gajah menjadi buta. Setelah yakin kalau si Gajah telah buta, burung Kutilang lalu menemui sahabatnya dari komunitas katak dan mengeluhkan permasalahan yang menimpanya. Para katakpun menaruh simpati setelah mendengar cerita itu dan berikrar untuk membentu burung Kutilang. Burung Kutilang itupun lalu berkata: “Kuharap kalian mau mengikutiku ke tepi jurang. Di tepi jurang itu, berteriaklah sekeras mungkin agar si Gajah bisa mendengar suara kalian. Sebab jika mendengar suara kalian, tentu ia akan mengira bahwa di sini merupakan kolam air tempat yang ada airnya. Kalau si Gajah mendatangi kalian, ia akan terjebak dan jatuh ke dalam jurang ini, sebab matanya tidak bisa melihat!”
Saat si Gajah datang untuk mencari air minum, para Katak mulai menjalankan scenario yang telah diatur oleh Burung Kutilang. Semua strategi itu mereka lakukan dengan sempurna dan sang Gajah pun akhirnya terperosok dan jatuh ke dalam jurang. Kutilang pun merasa senang karena dendamnya sudah terbalaskan. Kemudian dengan lantang sambil terbang ke dalam jurang ia berkata: “Wahai binatang yang sombong dan angkuh dengan kebesaran tubuhnya, inilah balasan atas penghinaanmu atas diriku dan komunitasku yang bertubuh kecil dan lemah. Sadarkah wahai Gajah , besar tubuhmu yang tidak dibarengi oleh kecerdasan akal telah terkalahkan oleh kecil tubuhku dengan kecerdasan akal. Kini rasakan kematianmu dan selamat jalan menuju kehancuranmu. [Ibn Al Muqaffa]

